Oleh: Tipue Sultan
LAUT biasanya menenangkan.
Biru. Luas. Tenang.
Tetapi Minggu pagi tadi (2 Agustus 2026), laut di sekitar Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berubah menjadi panggung kepanikan.
Api berkobar di atas KMP Mutiara Sentosa 2.
Asap hitam membumbung tinggi.
Dan ratusan orang mendadak kehilangan satu hal yang selama ini mereka anggap pasti: rasa aman.
Mereka bukan sedang berwisata.
Mereka hanya ingin pulang.
Sebagian menuju Makassar. Sebagian ingin bertemu keluarga. Sebagian mungkin sedang menghitung hari untuk kembali bekerja.
Tak ada yang berangkat dari Surabaya pagi itu dengan rencana melompat ke laut.
Namun hidup sering kali tidak meminta izin sebelum mengubah segalanya.
Sekitar pukul enam pagi, nakhoda melaporkan kebakaran kepada perusahaan pelayaran.
Sesudah itu, komunikasi terputus.
Hening.
Di laut, kata “hilang kontak” selalu terdengar lebih mengerikan dibanding di daratan.
Karena di tengah hamparan air yang tak berujung, manusia menjadi sangat kecil.
Dan api membuat keadaan jauh lebih buruk.
Saat kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi mulai menerima informasi, sebagian badan KMP Mutiara Sentosa 2 sudah dilalap kobaran.
Penumpang bertahan di anjungan.
Sebagian berkumpul di haluan.
Mereka menunggu bantuan.
Mereka berharap.
Mereka berdoa.
Tetapi harapan memiliki batas ketika api terus mendekat.
Sekitar pukul 10.20 WIB, sebagian penumpang mengambil keputusan yang mungkin paling sulit dalam hidup mereka.
Melompat ke laut.
Pilihan yang sebenarnya bukan pilihan.
Tetap di kapal berarti berhadapan dengan api.
Melompat berarti menghadapi ombak.
Di antara dua ketakutan itu, mereka memilih air.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan penumpang mengenakan pelampung berwarna jingga. Mereka berdesakan. Terapung. Menunggu pertolongan datang dari segala arah.
Gambaran itu membuat siapa pun tercekat.
Karena di tengah laut, manusia kembali pada bentuknya yang paling sederhana.
Tak ada jabatan.
Tak ada status sosial.
Tak ada perbedaan apa pun.
Yang ada hanya satu keinginan: bertahan hidup.
Hingga Minggu sore pukul 16.00 WIB, Kantor SAR Surabaya mencatat lima orang meninggal dunia. Sebanyak 225 orang berhasil diselamatkan. Sementara 41 lainnya masih dalam pencarian.
Angka.
Hanya angka.
Tetapi setiap angka memiliki nama.
Memiliki keluarga.
Memiliki seseorang yang sedang menunggu kabar.
Di sebuah rumah, mungkin ada ibu yang terus menatap layar telepon.
Di tempat lain, ada anak yang bertanya kapan ayahnya pulang.
Ada suami yang belum tahu nasib istrinya.
Ada istri yang belum mengetahui kabar suaminya.
Dalam setiap musibah transportasi, yang paling berat sering kali bukan api, bukan ombak, bukan bahkan jarak.
Melainkan ketidakpastian.
Tim SAR, kapal-kapal niaga, kapal patroli, dan berbagai unsur penyelamat bergerak menuju lokasi.
Mereka berpacu dengan waktu.
Karena setiap menit sangat berarti bagi mereka yang masih bertahan di tengah laut.
Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi prioritas utama. Berbagai armada dikerahkan untuk mendukung operasi penyelamatan.
Namun di tengah semua upaya itu, ada pertanyaan yang selalu muncul setiap kali tragedi laut terjadi di negeri kepulauan ini.
Mengapa kebakaran kapal masih terus berulang?
Indonesia adalah negara laut.
Ribuan kapal berlayar setiap hari.
Jutaan orang menggantungkan hidup pada transportasi laut.
Tetapi setiap insiden besar selalu menyisakan pekerjaan rumah yang sama: keselamatan.
Sebab secanggih apa pun teknologi pelayaran, pada akhirnya keselamatan tidak boleh menjadi urusan keberuntungan.
Keselamatan harus menjadi budaya.
Harus menjadi kebiasaan.
Harus menjadi prioritas sebelum kapal meninggalkan pelabuhan.
Minggu itu, di perairan Sapudi, api menghanguskan badan kapal.
Tetapi yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa sekali lagi masyarakat Indonesia harus menyaksikan tragedi di laut yang merenggut nyawa dan meninggalkan luka.
Laut memang tidak pernah menjanjikan segalanya akan baik-baik saja.
Tetapi manusia selalu bisa berusaha memastikan perjalanan menjadi lebih aman.
Karena setiap penumpang yang membeli tiket sesungguhnya hanya menginginkan satu hal sederhana.
Berangkat dengan selamat.
Dan pulang dengan selamat. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
