WAJO – Ada angka yang cukup mengejutkan dalam dunia perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Wajo.
Selama ini banyak petani sawit rakyat berjuang meningkatkan hasil kebun, namun kesenjangan produktivitas dengan perkebunan besar masih menjadi tantangan.
Kini muncul target baru yang cukup ambisius: menaikkan rendemen sawit Wajo dari sekitar 16 persen menjadi 28 persen, sekaligus mendorong harga tandan buah segar (TBS) hingga Rp3.000 per kilogram.
Target itu mencuat setelah peserta Pelatihan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) asal Kabupaten Wajo melakukan kunjungan lapangan ke PTPN IV Regional II Distrik Sulawesi Unit Kebun Keera Maroangin, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan tersebut bukan sekadar melihat kebun.
Petani Wajo diajak melihat langsung perbedaan antara pengelolaan kebun perusahaan dengan kebun rakyat, sekaligus mencari jawaban mengapa produktivitas bisa berbeda jauh.
Angka Produktivitas Jadi Sorotan
Praktisi AKPY, Hartono, S.P., M.Si., mengungkapkan bahwa rata-rata produksi crude palm oil (CPO) Indonesia saat ini berada pada kisaran 4–5 ton per hektare per tahun.
Namun, kebun rakyat masih berada di kisaran 2,5–3 ton CPO per hektare per tahun.
Sementara perkebunan besar swasta (PBS) mampu mencapai sekitar 7 ton CPO per hektare per tahun.
Menurut Hartono, perbedaan tersebut bukan hanya karena luas lahan atau faktor keberuntungan.
Kunci utamanya ada pada manajemen kebun.
“Produktivitas tinggi bukan sesuatu yang mustahil. Perusahaan mampu menghasilkan produksi lebih tinggi karena menerapkan prinsip budidaya secara benar dan konsisten sejak perencanaan lahan hingga panen,” jelasnya.
Kesalahan Awal Bisa Berdampak 30 Tahun
Dalam pelatihan tersebut, petani Wajo mendapat pemahaman bahwa kesalahan pada awal penanaman bisa menjadi masalah panjang.
Salah satunya pemilihan bibit.
Menurut Hartono, penggunaan bibit unggul dari persilangan Dura × Pisifera (DxP) menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan kebun.
Begitu juga dengan pengaturan jarak tanam.
Kesalahan pada tahap awal bisa berdampak selama umur ekonomis tanaman yang mencapai sekitar 30 tahun.
“Kesalahan dalam memilih bibit dan mengatur jarak tanam merupakan kesalahan yang dampaknya akan dirasakan selama umur ekonomis tanaman,” tegasnya.
Selain bibit, petani juga diperkenalkan dengan pengelolaan tanaman belum menghasilkan (TBM), pemupukan, pengendalian hama, tata air, hingga teknik panen yang tepat.
Belajar dari Kebun PTPN
Field trip ke PTPN IV Regional II menjadi bagian penting dalam pelatihan karena petani dapat melihat langsung standar pengelolaan perkebunan modern.
Mulai dari pola tanam, pemeliharaan, hingga proses menghasilkan buah berkualitas tinggi.
Askep PTPN IV, Jon Sinaga, mengatakan peningkatan kualitas kebun rakyat bukan hal yang mustahil.
Ia mencontohkan pengalaman pengelolaan Koperasi Bersatu Makmur Jaya yang berhasil meningkatkan rendemen secara signifikan.
“Berkat pelatihan yang kami lakukan dalam kurun waktu 5 tahun, rendemen signifikan naik dari 14 persen menjadi 23,8 persen. Namun kalau bibit jelek mau dipelihara berapa lama hasilnya juga tidak akan maksimal,” ujarnya.
Peluang Besar Melalui Program PSR
Manager Kebun PTPN IV Regional II Keera, Fahrizal Putra, juga membuka peluang kemitraan dengan petani Wajo.
Menurutnya, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) masih memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan.
“Program PSR di Kabupaten Wajo belum menyentuh satu juta hektare. Padahal melalui PSR petani bisa mendapatkan Rp60 juta per hektare,” jelasnya.
Program tersebut menjadi salah satu jalan bagi petani untuk memperbaiki kebun yang sudah tidak produktif sekaligus mengganti tanaman tua dengan bibit unggul.
Wajo Ingin Sawit Lebih Menguntungkan
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Andi Arsyam Jaya, S.Hut., M.P., berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada teori.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh harus diterapkan agar produktivitas dan kualitas sawit Wajo meningkat.
“Semoga setelah pelatihan ini rendemen sawit Kabupaten Wajo bisa naik dari 16 persen ke 28 persen dan harga bisa didongkrak sampai Rp3.000,” katanya.
Jika target tersebut berhasil dicapai, dampaknya bukan hanya pada angka produksi.
Pendapatan petani sawit Wajo berpotensi meningkat, daya saing perkebunan rakyat semakin kuat, dan sektor sawit dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Sebab dalam bisnis sawit, bukan hanya luas kebun yang menentukan keuntungan.
Tetapi bagaimana setiap pohon menghasilkan buah terbaik.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
