Wajo, katasulsel.com — Kemarau panjang biasanya membawa kecemasan bagi petani.
Sawah mulai kekurangan air.
Benih dipertaruhkan.
Hasil panen pun sulit ditebak.
Namun, cerita berbeda datang dari sejumlah petani di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Di tengah kondisi cuaca kering yang melanda sejumlah wilayah, sebagian petani justru pulang dari sawah dengan hasil yang jauh lebih tinggi dari biasanya.
Salah satu daerah yang mencatat hasil mencolok berada di Desa Alewadeng, Kecamatan Sajoanging.
Desa ini terdiri atas tiga dusun, yakni Dusun Alupang, Dusun Toduma dan Dusun Benteng Luwu.
Di Dusun Toduma, sejumlah petani mengaku hasil panen musim ini justru meningkat.
Ali Akbar, salah seorang petani setempat, mengatakan hasil panen normal di lahannya biasanya berkisar 60 hingga 70 karung per hektare.
Namun musim kemarau kali ini, hasilnya justru mencapai sekitar 90 hingga 100 karung per hektare.
“Biasanya hanya 60 sampai 70 karung. Sekarang bisa 90 sampai 100 karung,” kata Ali Akbar, Minggu (13/9/2026).
Bahkan, menurut dia, lahan yang lebih kecil juga menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan.
Ada lahan sekitar 70 are yang menghasilkan hingga 80 karung.
Sementara lahan sekitar 50 are milik warga lainnya mampu menghasilkan 53 karung.
“Ini peningkatan yang luar biasa bagi kami,” ujarnya.
Cerita lebih mencolok disampaikan Haji Daeng Paware.
Ia memiliki lahan sekitar satu hektare.
Benih yang digunakan sekitar satu karung.
Namun setelah musim panen tiba, hasil yang diperolehnya mencapai 112 karung gabah.
Dengan rata-rata berat sekitar 120 kilogram per karung, hasil tersebut menunjukkan produksi yang cukup tinggi.
Haji Daeng Paware juga menyebut hasil panen seorang warga bernama Daeng Manessa.
Dengan lahan sekitar 40 are, hasil panennya mencapai 35 karung.
Menurut keterangannya, total berat hasil panen tersebut mencapai sekitar empat ton.
Angka-angka itu menjadi menarik karena muncul ketika sebagian wilayah justru menghadapi tekanan akibat musim kemarau dan minimnya pasokan air.
Rahasia sederhananya ternyata bukan tanpa usaha.
Petani di Dusun Toduma memanfaatkan pompanisasi sederhana dari aliran sungai untuk membantu memenuhi kebutuhan air sawah.
Bagi mereka, air menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan produktivitas.
Abdul Malik, petani lainnya, mengatakan ia menggarap lahan sekitar 50 are dan memperoleh sekitar 53 karung gabah.
Rata-rata berat setiap karung disebut sekitar 120 kilogram.
Ia berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada bantuan untuk produksi pertanian.
Sebab ada persoalan lain yang kini ikut menghantui petani.
Akses pengangkutan hasil panen.
Warga berharap pemerintah memperhatikan kondisi Jembatan Gantung Toduma yang disebut mulai mengalami kerusakan dan menjadi jalur penting untuk mengangkut hasil pertanian.
“Yang paling kami butuhkan adalah Jembatan Gantung Toduma. Hasil panen kami diangkut melalui akses jembatan itu,” kata Abdul Malik.
Bagi petani, panen bukan sekadar angka.
Di balik setiap karung gabah ada biaya benih, tenaga, pupuk, air, waktu dan harapan satu musim penuh.
Karena itu, hasil panen yang meningkat di tengah musim kemarau menjadi kabar baik bagi warga.
Hasil penelusuran sementara di sejumlah wilayah menunjukkan aktivitas pertanian tetap berjalan di beberapa kecamatan di Wajo, di antaranya Belawa, Keera, Pitumpanua, Majauleng, Maniangpajo, Pammana, Sabbangparu dan Sajoanging.
Namun, Desa Alewadeng menjadi salah satu wilayah yang mencuri perhatian karena sejumlah petaninya justru melaporkan hasil panen di atas kebiasaan.
Musim boleh kering.
Sawah boleh menghadapi ancaman kekurangan air.
Tetapi petani Wajo menunjukkan satu hal: selama masih ada air yang bisa diusahakan, sawah tetap bisa memberi harapan.
Di Dusun Toduma, kemarau tidak sepenuhnya berarti gagal panen.
Justru dari hamparan sawah yang diterpa cuaca kering itu, sejumlah petani pulang membawa lebih banyak gabah.
Dan bagi mereka, setiap karung tambahan adalah alasan untuk kembali menanam.
Oleh: Harry Goa
