Wajo, Katasulsel.com — Produksi kakao Sulawesi Selatan mencapai 82.525 ton pada 2023. Di tengah besarnya produksi tersebut, program hilirisasi kakao mulai menyasar sejumlah kabupaten di Sulsel pada 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat produksi tersebut berasal dari perkebunan rakyat dengan luas areal mencapai 175.456 hektare.
Kakao juga menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam perdagangan ekspor Sulsel. Pada Februari 2025, kelompok komoditas kakao atau cokelat menyumbang 5,36 persen terhadap total nilai ekspor Sulawesi Selatan.
Program hilirisasi kemudian mulai dijalankan di sejumlah daerah sentra kakao.
Di Kabupaten Wajo, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Selatan menggelar workshop percepatan penyusunan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) Program Hilirisasi Perkebunan Komoditas Kakao pada 30 Juni 2026.
Wajo mendapat alokasi program hilirisasi kakao seluas 1.110 hektare yang melibatkan 120 kelompok tani. BRMP Sulsel menyebut penyusunan dokumen CPCL di daerah tersebut telah selesai.
Program serupa juga menyasar Kabupaten Pinrang. BRMP Sulsel menggelar workshop percepatan CPCL hilirisasi perkebunan kakao di daerah tersebut pada awal Juli 2026.
Tidak hanya soal lahan, program ini juga berkaitan dengan kondisi tanaman dan kebutuhan petani. Peremajaan tanaman, penyediaan benih, verifikasi calon penerima, hingga pendampingan menjadi bagian dalam pelaksanaannya.
Dalam proses CPCL di Wajo, calon penerima program harus memenuhi sejumlah ketentuan. Di antaranya merupakan petani aktif, terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan), serta tidak menerima bantuan sejenis dalam program yang sama.
Persoalan distribusi benih juga muncul dalam pembahasan program. Penyuluh di lapangan menyampaikan kebutuhan tenaga buruh angkut untuk membantu bongkar muat serta perlunya penambahan titik distribusi benih.
Pengembangan kakao melalui hilirisasi juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Kementerian PPN/Bappenas mendorong pengembangan industri kakao untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan.
Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam pengembangan tersebut. Selain Wajo dan Pinrang, program hilirisasi kakao juga diproses di sejumlah daerah lain, termasuk Soppeng dan Tana Toraja.
Sementara itu, di Luwu Timur, program hilirisasi mencakup usulan peremajaan tanaman kakao seluas 935 hektare dan perluasan areal 99 hektare pada tahap pertama.
Data produksi, luas perkebunan, serta cakupan program hilirisasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan kakao Sulawesi Selatan yang masih berlangsung di tingkat daerah.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
