Oleh: Tipue Sultan

TIDAK ada orang yang membeli tiket kapal dengan niat melompat ke laut.

Mereka membeli tiket untuk tiba di tujuan.

Untuk pulang.

Untuk bertemu keluarga.

Untuk melanjutkan pekerjaan.

Untuk memulai hari yang baru.

Tetapi Minggu pagi itu (2 Agustus 2026), di perairan sekitar Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, takdir berkata lain.

Api muncul di atas KMP Mutiara Sentosa 2.

Mula-mula mungkin hanya kepulan asap.

Lalu kobaran.

Lalu kepanikan.

Dan kemudian, keputusan paling menakutkan yang harus diambil manusia ketika berhadapan dengan maut.

Melompat.

Ke laut.

Bayangkan sejenak posisi mereka.

Di belakang, api terus membesar.

Di depan, laut terbentang tanpa ampun.

Di kapal, panas dan asap mengancam.

Di air, ombak dan ketidakpastian menunggu.

Tidak ada pilihan yang benar-benar aman.

Namun banyak penumpang akhirnya memilih laut.

Karena terkadang manusia akan memilih apa pun yang masih memberinya sedikit harapan untuk hidup.

Foto-foto dari lokasi membuat dada sesak.

Puluhan penumpang mengenakan pelampung oranye.

Sebagian mengapung.

Sebagian saling berpegangan.

Sebagian menatap kapal yang terus mengeluarkan asap hitam.

Mereka tidak sedang berenang.

Mereka sedang berjuang.

Berjuang agar tetap hidup beberapa menit lagi.

Berjuang agar pertolongan datang lebih cepat.

Berjuang agar bisa kembali memeluk orang-orang yang mereka cintai.

Di tengah lautan itu, tidak ada yang memikirkan pekerjaan.

Tidak ada yang memikirkan jabatan.

Tidak ada yang memikirkan harta.

Yang tersisa hanya naluri paling dasar manusia.

Bertahan hidup.

Kita sering melihat angka dalam sebuah tragedi.

Lima meninggal.

Ratusan selamat.

Puluhan masih dicari.

Tetapi angka sering kali gagal menggambarkan ketakutan yang sebenarnya.

Bagaimana rasanya berdiri di dek kapal yang terbakar?

Bagaimana rasanya melihat asap semakin tebal?

Bagaimana rasanya memegang pelampung sambil menatap laut yang begitu luas?

Bagaimana rasanya ketika satu-satunya pilihan adalah melompat?

Tidak semua orang memiliki keberanian melakukan itu.

Namun keadaan memaksa mereka.

Mungkin ada seorang ibu yang memeluk anaknya sebelum terjun ke air.

Mungkin ada seorang ayah yang mendorong keluarganya lebih dulu ke laut demi keselamatan mereka.

Mungkin ada yang tidak bisa berenang tetapi tetap melompat karena api sudah terlalu dekat.

Mungkin ada yang menangis.

Mungkin ada yang hanya bisa berdoa.

Tidak ada yang tahu.

Yang kita tahu, pagi itu ratusan nyawa bertaruh dengan gelombang.

Laut yang biasanya menjadi jalur perjalanan berubah menjadi tempat penyelamatan.

Kapal-kapal yang melintas berdatangan.

Tali dilemparkan.

Pelampung dibagikan.

Korban satu per satu diangkat dari air.

Sebagian selamat.

Sebagian tidak.

Dan sebagian lainnya masih dicari ketika matahari mulai bergerak ke barat.

Tragedi ini bukan sekadar berita tentang kapal yang terbakar.

Ini adalah kisah tentang manusia yang dipaksa memilih antara api dan laut.

Tentang orang-orang biasa yang mendadak harus menjadi sangat berani.

Tentang mereka yang pagi itu tidak sedang mencari kepahlawanan, tetapi hanya ingin tetap hidup.

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, laut adalah sahabat.

Tetapi pada hari-hari tertentu, laut juga menjadi saksi betapa rapuhnya manusia.

Dan Minggu itu, di perairan Sapudi, laut menyaksikan sesuatu yang tidak akan mudah dilupakan.

Ratusan orang melompat ke dalam dirinya.

Bukan karena ingin.

Tetapi karena mereka ingin pulang.

Pulang dalam keadaan hidup. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Makassar terbaru di sini