Oleh: Edy Basri

SAYA baru sadar.

Ternyata mengajak orang kuliah itu lebih sulit daripada mengajak orang ngopi.

Kalau ngopi, cukup bilang, “Ayo ke warkop.”

Lima menit kemudian biasanya sudah duduk.

Kalau kuliah?

Bisa 4 tahun kemudian baru kelihatan hasilnya.

Karena itu saya teringat Ersan.

Dia baru saja menyelesaikan ujian skripsinya.

Lalu yudisium.

Selesai.

Resmi.

Sah.

Tidak bisa dibantah.

Tidak bisa diganggu gugat.

Kalau sekarang ada yang memanggilnya “Sarjana Hukum”, itu bukan bercanda.

Itu kenyataan.

Saya mengenalnya sekitar empat tahun silam.

Di Warkop Ruby, Pangkajene.

Milik Puang Ucu.

Saya lupa hari apa.

Saya juga lupa sedang minum kopi apa.

Jelas, bukan kopi ‘obat’ kuat.

Yang saya ingat hanya satu.

Ada seorang anak muda duduk sendirian.

Tidak membawa aura pejabat.

Tidak membawa aura pengusaha.

Apalagi aura calon anggota DPR.

Ia terlihat seperti anak muda biasa.

Bedanya, ia menyapa lebih dulu.

Namanya Ersan.

Kami ngobrol.

Ternyata dia wartawan.

Saya langsung senang.

Wartawan itu punya penyakit yang sama.

Kalau bertemu wartawan lain, pasti ngobrolnya panjang.

Seolah baru bertemu saudara yang hilang.

Padahal baru kenal lima menit.

Saya bertanya macam-macam.

Asal mana.

Kerja di mana.

Aktivitas apa.

Lalu saya bertanya satu hal.

“Kuliah di mana?”

Jawabannya pendek.

“Belum kuliah, Kak.”

Saya kira dia bercanda.

Ternyata tidak.

Saya tanya lagi.

“Alumni apa?”

“SMA.”

Hanya itu.

SMA.

Titik.

Tidak ada embel-embel.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada gelar.

Saat itu saya melihat wajah yang santai.

Terlalu santai malah.

Seolah hidup tidak punya masalah.

Padahal hidup selalu punya masalah.

Terutama kalau masih muda dan belum punya ijazah sarjana.

Saya lalu bilang kepadanya:

“Kamu masih muda.”

“Kuliahlah.”

Ia hanya tersenyum.

Nah.

Di sinilah biasanya masalah dimulai.

Kalau seseorang menjawab nasihat dengan senyuman, kita tidak pernah tahu apakah dia setuju atau sedang berusaha sopan.

Banyak orang tersenyum.

Lalu menghilang.

Tidak pernah muncul lagi.

Saya kira Ersan juga begitu.

Ternyata saya salah.

Ia benar-benar kuliah.

Bahkan masuk ke kampus tempat saya mengajar.

Di sinilah saya mulai sedikit khawatir.

Karena sekarang saya bukan hanya teman ngopi.

Saya juga dosennya.

Saya tahu bagaimana dunia wartawan.

Saya hidup di dunia itu.

Saya tahu jadwal wartawan lebih berantakan daripada jadwal mahasiswa.

Kadang berangkat pagi.

Kadang pulang tengah malam.

Kadang makan siang jam lima sore.

Kadang sarapan jam dua belas siang.

Kadang tidak tahu hari apa.

Yang penting berita naik.

Karena itu saya sempat berpikir:

Jangan-jangan Ersan hanya bertahan satu atau dua semester.

Lalu hilang.

Seperti banyak mahasiswa lainnya.

Saya salah lagi.

Ia bertahan.

Walaupun harus saya akui, bertahannya dengan gaya khas Ersan.

Santai.

Tidak panik.

Tidak terburu-buru.

Kalau ada lomba mahasiswa paling tenang menghadapi tugas, mungkin dia juaranya.

Kadang saya heran.

Dosen mulai panik.

Teman-temannya mulai panik.

Tenggat tugas tinggal besok.

Ersan masih bisa terlihat menikmati kopi.

Seolah dunia baik-baik saja.

Padahal tidak baik-baik saja.

Tapi anehnya, tugas tetap selesai.

Ujian tetap ikut.

Nilai tetap keluar.

Semester tetap berjalan.

Saya lalu sampai pada satu kesimpulan.

Ersan ini bukan malas.

Ia hanya terlalu berbakat untuk terlihat santai.

Meski saya yakin sebagian dosennya tidak setuju dengan kesimpulan itu.

Termasuk saya sendiri.

Yang menarik, selama kuliah ia tetap menjadi wartawan.

Tetap meliput.

Tetap menulis.

Tetap mengejar narasumber.

Tetap hidup dalam dunia yang setiap hari berubah.

Pagi berita A.

Siang berita B.

Sore berita C.

Malam muncul berita D.

Besok pagi semuanya berubah lagi.

Dunia wartawan memang tidak pernah memberi kesempatan untuk bermalas-malasan.

Karena berita tidak pernah menunggu.

Namun di tengah kesibukan itu, ia tetap menyimpan satu target.

Lulus.

Menyelesaikan kuliah.

Mendapatkan gelar.

Dan target itu akhirnya tercapai.

Kemarin.

Saat saya melihat kabar yudisiumnya, pikiran saya langsung terbang ke Warkop Ruby.

Ke meja kopi itu.

Ke percakapan sederhana itu.

Aneh juga.

Kadang hidup ditentukan oleh hal-hal yang terlihat tidak penting.

Obrolan biasa.

Pertemuan biasa.

Nasihat biasa.

Tetapi dampaknya luar biasa.

Saya membayangkan jika hari itu saya tidak singgah ke Ruby.

Atau Ersan tidak menyapa.

Atau saya tidak bertanya soal kuliah.

Mungkin cerita ini berbeda.

Mungkin.

Tapi hidup tidak mengenal kata “mungkin”.

Yang ada adalah kenyataan.

Dan kenyataannya hari ini Ersan sudah Sarjana Hukum.

Saya ikut bangga.

Bukan karena saya dosennya.

Bukan pula karena saya pernah menyuruhnya kuliah.

Saya bangga karena ia membuktikan satu hal yang sering dilupakan anak muda.

Bahwa masa depan tidak dibangun oleh niat.

Melainkan oleh ketahanan.

Banyak orang punya niat kuliah.

Sedikit yang bertahan sampai wisuda.

Banyak orang punya mimpi besar.

Sedikit yang sanggup menahan bosan.

Padahal keberhasilan sering kali tidak ditentukan oleh kecerdasan.

Melainkan kemampuan bertahan ketika mulai lelah.

Ersan berhasil melewati itu.

Kini ia memiliki dua identitas.

Jurnalis.

Dan Sarjana Hukum.

Dua dunia yang sebenarnya saling melengkapi.

Satu mencari fakta.

Satu mencari keadilan.

Saya tidak tahu ke mana langkahnya setelah ini.

Tetapi saya tahu satu hal.

Anak muda yang dulu saya temui di Warkop Ruby itu sudah berhasil memenangkan pertarungan pertamanya.

Melawan keraguan.

Melawan kesibukan.

Melawan rasa malas.

Terutama melawan dirinya sendiri.

Dan percayalah.

Pertarungan terakhir itulah yang paling sulit dimenangkan.

Kini, kamu di akhir cerita.

Kamu sudah lulus.

Selamat ya dik.

Selamat Pak Ersan…. (*)