Jakarta, katasulsel.com — Ruang-ruang rapat di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026), kedatangan tamu dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Mereka bukan datang sekadar melakukan kunjungan kerja seremonial.

Rombongan anggota DPRD Sidrap yang dipimpin Ketua DPRD Sidrap, H. Takyuddin Masse, membawa satu hal yang mereka sebut sebagai amanah masyarakat.

Meski berasal dari berbagai fraksi berbeda seperti NasDem, Golkar, Perindo, dan Demokrat, mereka datang dengan tujuan yang sama: menyampaikan berbagai persoalan yang saat ini dirasakan warga Sidrap.

Dari persoalan pertanian, peternakan, perkebunan, hingga infrastruktur, semuanya masuk dalam daftar aspirasi yang dibawa ke pusat.

Namun di antara sekian banyak persoalan, ada satu isu yang disebut paling mendesak.

Yakni kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan sulitnya masyarakat mendapatkan tabung gas LPG.

Masalah itu, menurut para wakil rakyat Sidrap, bukan lagi sekadar keluhan biasa.

Di lapangan, dampaknya mulai dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat.

Petani kesulitan memperoleh bahan bakar untuk aktivitas pertanian.

Pedagang kecil mengeluhkan operasional usaha yang terganggu.

Sementara ibu rumah tangga harus berkeliling mencari gas LPG yang semakin sulit ditemukan.

Ketua DPRD Sidrap, H. Takyuddin Masse, mengatakan kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperjuangkan kebutuhan masyarakat di tingkat nasional.

“Kami datang membawa aspirasi masyarakat Sidrap. Selain itu, kami juga belajar, berkonsultasi dan meningkatkan kapasitas agar semakin mampu mengemban amanah rakyat dengan sebaik-baiknya,” ujar Takyuddin.

Politisi NasDem itu berharap langkah yang dilakukan DPRD Sidrap dapat menghasilkan perhatian dan solusi nyata bagi masyarakat.

Ia juga meminta dukungan serta doa warga Sidrap agar perjuangan yang dibawa ke Senayan dapat membuahkan hasil.

“Oleh sebab itu saya mohon doa seluruh masyarakat Sidrap. Apa yang kami perjuangkan ke DPR RI ini untuk keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Sidrap,” katanya.

Sementara itu, anggota DPRD Sidrap, H. Bahrul Appas, menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi fokus utama yang diperjuangkan.

Hal itu sejalan dengan posisi Sidrap sebagai salah satu daerah lumbung pangan di Sulawesi Selatan yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi energi dan dukungan infrastruktur.

Menurut Bahrul, kelangkaan BBM dan LPG saat ini menjadi persoalan yang paling banyak disampaikan masyarakat kepada para wakil rakyat.

“Kesulitan ini dirasakan oleh petani yang hendak pergi ke ladang, pedagang yang ingin membuka usahanya, ibu rumah tangga yang hendak menyiapkan makanan, hingga seluruh masyarakat yang bergantung pada kelancaran pasokan energi untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Karena itu, kata dia, DPRD Sidrap merasa perlu membawa persoalan tersebut langsung ke tingkat pusat.

Tujuannya agar kondisi yang terjadi di daerah dapat diketahui oleh para pengambil kebijakan nasional.

“Kami datang untuk menyampaikan fakta lapangan. Bahwa di daerah kami, rakyat masih berjuang mencari apa yang seharusnya tersedia. Kelangkaan BBM dan LPG ini sungguh dirasakan masyarakat dan perlu segera dicarikan jalan keluarnya,” tegas Bahrul.

Nada serupa juga disampaikan anggota DPRD Sidrap lainnya, Andi Tenri Sangka.

Ia menilai kehadiran DPRD Sidrap di Senayan merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kesulitan.

Menurutnya, wakil rakyat tidak boleh hanya mendengar keluhan tanpa berupaya memperjuangkannya.

“Perjalanan ini adalah bukti bahwa kami tidak diam melihat rakyat kesulitan. Insya Allah kami bergerak, kami menyampaikan, dan akan terus berjuang sampai solusi ditemukan dan keadilan benar-benar dirasakan masyarakat Sidrap,” katanya.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi daerah, kunjungan DPRD Sidrap ke DPR RI menjadi sinyal bahwa sejumlah persoalan lokal kini mulai dibawa ke meja pembahasan nasional.

Bagi masyarakat, harapannya sederhana.

Kelangkaan BBM berakhir, LPG kembali tersedia, sektor pertanian tetap bergerak, dan kebutuhan dasar warga tidak lagi menjadi barang yang sulit dicari.

Karena bagi daerah agraris seperti Sidrap, energi bukan sekadar komoditas.

Ia adalah urat nadi aktivitas masyarakat sehari-hari. (*)