Ibrahim Marzuki
SIDRAP – Perubahan cara masyarakat berbelanja mulai terasa hingga ke desa-desa. Jika dulu uang tunai menjadi alat transaksi utama, kini semakin banyak pembeli yang datang hanya membawa telepon genggam.
Situasi ini sempat menjadi tantangan bagi sejumlah pedagang kecil di Desa Wette’e, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap. Tidak sedikit calon pembeli yang ingin bertransaksi secara digital, sementara pedagang belum memiliki fasilitas pembayaran non-tunai.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas), Ibrahim Marzuki, menghadirkan program digitalisasi transaksi UMKM melalui pembuatan dan penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi pedagang kecil di Desa Wette’e.
Program tersebut tidak sekadar mengenalkan teknologi pembayaran digital, tetapi juga mendampingi pedagang hingga memiliki QRIS yang dapat langsung digunakan untuk menerima pembayaran dari konsumen.
Pembeli Datang, Uang Tunai Tak Selalu Ada
Fenomena penggunaan pembayaran digital semakin terlihat saat momentum perayaan Hari Kemerdekaan.
Banyak pengunjung dari luar desa yang datang berbelanja, namun tidak semuanya membawa uang tunai.
Akibatnya, transaksi kerap terkendala karena pedagang hanya melayani pembayaran secara konvensional.
Melalui QRIS, persoalan tersebut mulai teratasi.
Pembeli cukup memindai kode menggunakan aplikasi perbankan atau dompet digital yang dimiliki, lalu transaksi dapat langsung diselesaikan dalam hitungan detik.
“Adanya QRIS sangat berguna. Apalagi saat perayaan 17 Agustus, banyak pembeli dari luar datang. Banyak yang tidak membawa uang tunai dan mencari pembayaran QRIS, jadi ini sangat membantu,” ujar salah seorang warga.
UMKM Desa Mulai Beradaptasi
Bagi sebagian pedagang kecil, penggunaan QRIS merupakan pengalaman baru.
Karena itu, program yang dijalankan mahasiswa KKN Unhas tidak berhenti pada pembuatan akun semata, tetapi juga memberikan pendampingan mengenai cara penggunaan, proses penerimaan pembayaran, hingga manfaat transaksi digital dalam pengelolaan usaha.
Langkah ini dinilai penting agar pelaku usaha desa tidak tertinggal dari perubahan pola transaksi masyarakat yang semakin mengarah ke sistem non-tunai.
Selain mempermudah pembeli, pembayaran digital juga membantu pedagang karena transaksi lebih praktis dan mengurangi risiko kesalahan pengembalian uang.
Desa Wette’e Ikut Menyambut Ekonomi Digital
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi keuangan, digitalisasi kini tidak lagi hanya menjadi kebutuhan kota-kota besar.
Desa-desa juga mulai terdorong untuk beradaptasi agar pelaku usahanya mampu bersaing dan menjangkau lebih banyak konsumen.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN Inovasi Desa Unhas berupaya menghadirkan solusi sederhana yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
QRIS menjadi pintu masuk bagi pelaku UMKM untuk mengenal ekosistem ekonomi digital yang lebih luas.
Dari KKN ke Transformasi UMKM
Ibrahim Marzuki berharap penerapan QRIS tidak berhenti setelah program KKN berakhir.
Menurutnya, semakin banyak pedagang yang memanfaatkan pembayaran digital, semakin besar peluang UMKM desa berkembang mengikuti perubahan zaman.
Program ini juga menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa tidak selalu berbentuk pembangunan fisik.
Kadang, sebuah kode QR berukuran kecil yang ditempel di lapak pedagang justru bisa membuka akses menuju pasar yang lebih luas dan modern.
Bagi pedagang di Desa Wette’e, QRIS bukan sekadar alat pembayaran baru.
Ia menjadi simbol bahwa UMKM desa juga mampu bergerak mengikuti arus digitalisasi yang kini mengubah wajah perdagangan di Indonesia.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
