Oleh: Edy Basri

Malam ini tidak ada tanda tangan jabatan.

Tidak ada penyerahan tongkat komando.

Tidak ada pembacaan keputusan mutasi.

Semua itu sudah selesai beberapa waktu lalu di Polda Sulsel.

Yang ada malam ini hanyalah sebuah acara yang sering dianggap biasa: pisah sambut.

Tetapi bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang di Sidrap, malam ini jauh dari kata biasa.

Karena malam ini adalah malam ketika seorang sahabat berpamitan.

Seorang kapolres yang selama ini menjadi bagian dari denyut kehidupan Sidrap, perlahan melangkah pergi meninggalkan Bumi Nene Mallomo.

Namanya Fantry Taherong. Lengkapnya, AKBP Dr. Fantry Taherong., S.H.,S.I.K., M.H.,M.Krim

Dan entah mengapa, sejak beberapa hari terakhir, saya merasa Sidrap sedang kehilangan seseorang yang selama ini diam-diam ikut menjaga rumah besar bernama daerah ini.

Saya dan Fantry mungkin tidak seperti hubungan wartawan dan pejabat pada umumnya.

Kami jarang terlihat duduk semeja.

Jarang berfoto bersama.

Kalau tidak salah, cuma sekali berfoto bedua, itupun sangat momentum, saat Kapolda ke Sidrap beberapa bulan lalu.

Iya, saya dan beliau jarang muncul dalam satu frame kegiatan.

Bahkan mungkin ada yang mengira kami tidak terlalu dekat.

Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Hubungan itu sengaja dijaga tanpa banyak dipertontonkan.

Hanya lewat telepon.

Cuma lewat pesan WhatsApp.

Lewat diskusi-diskusi panjang tentang Sidrap.

Tentang masyarakat.

Tentang keamanan.

Tentang hal-hal kecil yang kadang tidak pernah masuk berita.

Kadang tengah malam.

Kadang dini hari.

Kadang hanya sebuah pesan singkat.

Tetapi komunikasi itu nyaris tak pernah putus.

Saya lebih sering berbicara dengan Fantry sebagai adik daripada sebagai Kapolres.

Dan mungkin itulah yang membuat malam ini terasa berbeda.

Di Sidrap, banyak pejabat datang dan pergi.

Itu hal biasa.

Mutasi adalah bagian dari kehidupan birokrasi.

Tetapi tidak semua pejabat meninggalkan kesan.

Tidak semua pejabat meninggalkan ruang kosong ketika pergi.

Fantry termasuk yang meninggalkan keduanya.

Kesan.

Dan ruang kosong.

Bukan karena ia sempurna.

Tidak ada pemimpin yang sempurna.

Tetapi karena ia menghadirkan satu hal yang mulai langka: kemauan untuk mendengar.

Ia mau menerima kritik.

Ia tidak alergi terhadap masukan.

Ia membuka pintu komunikasi.

Dan yang paling penting, ia memahami bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas polisi.

Melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat.

Hari ini saya membaca surat perpisahannya.

Surat sederhana yang ia tulis bersama keluarga.

Tidak ada kalimat yang bombastis.

Tidak ada kata-kata besar.

Hanya ucapan terima kasih.

Permohonan maaf.

Dan permintaan doa untuk menjalankan amanah baru sebagai Kabag Binkar Ro SDM Polda Sulsel.

Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat surat itu terasa berat.

Karena saya sadar, orang yang selama ini selalu berada di ujung telepon untuk membicarakan Sidrap, kini akan bertugas di tempat lain.

Ia benar-benar pergi.

Malam ini, panggung pisah sambut akan digelar.

Akan ada sambutan.

Ada senyum.

Ada tepuk tangan.

Mungkin juga ada tawa.

Tetapi saya yakin, di antara semua itu terselip rasa haru yang sulit disembunyikan.

Karena perpisahan selalu mengajarkan satu hal:

Kita baru menyadari arti kehadiran seseorang ketika ia hendak pergi.

Selamat bertugas, adindaku, AKBP Dr. Fantry Taherong.

Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita Sidrap.

Dan selamat datang AKBP Indra Waspada Yuda., S.I.K., M.H.

Indra juga seperti adik saya. Sudah lama, komunikasi lancar

Bumi Nene Mallomo kini berada dalam penjagaan tangan baru.

Semoga estafet pengabdian ini terus menyala.

Sebab polisi boleh berganti.

Jabatan boleh berpindah.

Tetapi kecintaan kepada Sidrap harus tetap tinggal. β– 

Penulis: Edy Basri
Pimpinan Redaksi Katasulsel.com

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini