Sidrap, Katasulsel.com β€” Kemarau panjang menguji sawah-sawah Sidrap.

Air terbatas. Cuaca panas. Petani harus berpacu dengan waktu.

Tetapi dari hamparan sawah yang tetap bertahan, muncul kabar yang cukup menggembirakan.

Sidrap berhasil melewati tekanan El Nino dengan sebagian besar lahan pertaniannya tetap berproduksi.

Dari sekitar 51.800 hektare lahan baku sawah yang ditanami, sekitar 60 persen kini sudah memasuki masa panen.

Bahkan, produktivitas sejumlah lahan disebut mampu mencapai 9 hingga 11 ton per hektare. Beberapa lokasi bahkan menembus 12 ton per hektare.

Bagi daerah yang menggantungkan denyut ekonominya pada pertanian, angka itu bukan sekadar statistik.

Itu adalah gambaran tentang bagaimana petani Sidrap bertahan ketika kemarau datang lebih panjang.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari berbagai langkah yang dilakukan pemerintah bersama petani.

β€œAlhamdulillah, kita berhasil melewati kemarau El Nino,” kata Syaharuddin saat ditemui di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, dari total lahan yang ditanami, sekitar 60 persen sudah panen, sementara lahan lainnya masih menunggu waktu panen.

Kemarau memang tetap meninggalkan dampak.

Sekitar 4.500 hektare lahan disebut terdampak.

Namun di sejumlah wilayah, mayoritas lahan mampu bertahan.

Pitu Riase dan Dua Pitue menjadi contoh wilayah yang sebagian besar lahannya berhasil melewati musim kemarau.

Di Maritengngae, sebagian besar lahan juga disebut berhasil, meski terdapat sekitar 900 hektare yang mengalami gagal panen di salah satu desa.

Kondisi berbeda terjadi di beberapa wilayah lainnya, seperti Kulo, Watang Sidenreng, Pancarijang dan Pitu Riawa.

Data tersebut justru memperlihatkan satu hal penting: ketahanan pertanian Sidrap tidak dibangun dengan mengandalkan satu cara.

Ada air yang harus dicari.

Ada musim tanam yang harus dipercepat.

Ada varietas yang harus disesuaikan.

Ada sawah yang harus dipantau setiap hari.

Pemkab Sidrap menjalankan program listrik masuk sawah dan pengeboran sumber air tanah hingga sekitar 70 meter.

Pemerintah juga mendorong petani mempercepat musim tanam sejak sekitar Mei.

Strategi lain adalah menggunakan benih padi super genjah yang memiliki masa tanam sekitar 75 hingga 90 hari.

Bandingkan dengan padi biasa yang dapat membutuhkan sekitar 120 hari.

Selisih waktu tersebut menjadi sangat berarti ketika petani harus berhadapan dengan musim kemarau.

Di kawasan sekitar Danau Sidenreng, sumber air juga dimanfaatkan untuk membantu pengairan sawah.

Menurut Syaharuddin, langkah tersebut membantu delapan desa di tiga kecamatan melewati periode kemarau.

Hasil akhirnya cukup menggembirakan.

Syaharuddin menyebut tingkat keberhasilan pertanian Sidrap selama menghadapi El Nino berada di kisaran 90 hingga 91 persen.

Sementara sekitar 8 hingga 9 persen lahan mengalami kegagalan.

Ada pula kabar yang membuat petani semakin bersemangat.

Selain produktivitas tinggi, harga gabah disebut berada pada kondisi yang menggembirakan.

β€œYang menggembirakan petani, selain panennya bagus, harganya juga bagus,” ujar Syaharuddin.

Bagi Sidrap, keberhasilan menghadapi kemarau bukan hanya soal mempertahankan tanaman agar tetap hidup.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana produksi yang tinggi tersebut terus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Padi tidak berhenti di sawah.

Ada penggilingan.

Ada perdagangan.

Ada distribusi.

Ada usaha pengolahan.

Ada lapangan pekerjaan.

Semakin kuat rantai tersebut, semakin besar pula dampaknya terhadap ekonomi daerah.

Itulah sebabnya Pemkab Sidrap mendorong agar peningkatan produksi pertanian berjalan beriringan dengan penguatan sektor pengolahan dan industri.

β€œHarapan kami, dari hasil pertanian di Sidrap produksinya terus bertambah. Kemudian pengolahan dan industrinya juga kuat,” kata Syaharuddin.

Di tengah ancaman kemarau, Sidrap akhirnya menunjukkan wajah lain.

Bukan hanya daerah yang menunggu hujan.

Tetapi daerah yang berusaha mencari air.

Bukan hanya petani yang menghadapi kekeringan.

Tetapi petani yang mengubah strategi.

Dan bukan hanya mengejar panen.

Tetapi berusaha menjaga agar produksi pangan tetap berjalan.

Kini sekitar 60 persen sawah telah memasuki masa panen.

Sebagian lahan bahkan menghasilkan hingga 12 ton per hektare.

Bagi Sidrap, itu menjadi modal penting untuk melangkah ke tahap berikutnya: menjaga produksi, memperkuat petani, dan mengubah hasil sawah menjadi kekuatan ekonomi daerah. (*)

Baca Berita Menarik Lainnya di Katasulsel.com