Sidrap, Katasulsel.com β€” Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) membahas penguatan pembinaan kemahasiswaan melalui mata kuliah kokurikuler.

Salah satu poin yang dibahas yakni pengintegrasian pembinaan Hizbul Wathan (HW) dan Tapak Suci sebagai bagian dari proses pengaderan mahasiswa.

Pembahasan tersebut dilakukan dalam rapat yang digelar di Aula Lantai III Rektorat UMS Rappang, Selasa (15/9/2026).

Rapat dihadiri Wakil Rektor IV Dr. Drs. H. Syamsu T, S.Pd., M.Pd. dan Wakil Rektor III Dr. Herman D, S.Pd., S.IP., M.Si., serta para dekan dan ketua program studi di lingkungan UMS Rappang.

Wakil Rektor IV UMS Rappang, Dr. Drs. H. Syamsu T, mengatakan rapat tersebut digelar untuk menyatukan persepsi terkait pembinaan mahasiswa melalui organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah.

“Jadi pada hari ini kita baru saja melaksanakan rapat dalam rangka menyatukan persepsi sebagai tindak lanjut untuk memasukkan Hizbul Wathan dan Tapak Suci sebagai salah satu bentuk pembinaan kader mahasiswa, di samping IMM yang sudah berjalan sejak awal,” kata Syamsu.

Menurutnya, penyelarasan tersebut diperlukan agar pelaksanaan pembinaan di tingkat universitas hingga program studi dapat berjalan searah.

“Harapan kami supaya persepsi kita semua sama sehingga implementasinya nanti berjalan seiring. Tujuannya agar kader-kader Muhammadiyah bisa terwujud melalui pembinaan di Ortom Muhammadiyah, yaitu IMM, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci,” jelasnya.

Syamsu menambahkan, pembinaan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan kemahasiswaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membentuk mahasiswa yang memahami nilai dan perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah.

“Ini supaya betul-betul bisa terimplementasi sehingga kita akan melahirkan kader-kader yang memahami bagaimana khittah perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah melalui PTMA,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III UMS Rappang Dr. Herman D menjelaskan bahwa pembinaan melalui HW dan Tapak Suci tidak dimaksudkan untuk mengesampingkan organisasi kemahasiswaan lainnya, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun himpunan mahasiswa.

Menurutnya, masing-masing organisasi memiliki karakter dan fungsi berbeda. HW, Tapak Suci, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), kata dia, memiliki proses pembinaan yang dapat berlanjut bahkan setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.

“Perbedaan BEM dengan Tapak Suci dan HW adalah Tapak Suci dan HW tidak ada batas usia. Kalau BEM dan himpunan, setelah selesai menjadi mahasiswa, mereka tidak lagi berkembang di organisasi itu. Sementara HW, Tapak Suci, dan IMM bisa berkembang sampai mereka selesai kuliah, bahkan sampai tua,” ujarnya.

“Melalui Tapak Suci dan HW ini, betul-betul gerakan kaderisasi yang ada di Muhammadiyah bisa terbangun,” sambung Dr. Herman.
Dalam rapat tersebut juga dibahas pendataan mahasiswa baru yang sebelumnya telah diberikan pilihan untuk mengikuti pembinaan Tapak Suci atau HW.

Mahasiswa sebelumnya diberikan kebebasan untuk memilih salah satu bentuk pembinaan tersebut. Data pilihan mahasiswa itu selanjutnya akan menjadi dasar dalam penyusunan program pembinaan di tingkat fakultas dan program studi. (*)