Gulma Kini Dianggap “Pencuri Pupuk”
Di acara peluncuran herbisida Pirazo produksi PT Excel Meg Indo itu, Syahar bahkan bicara cukup detail soal gulma.
Menurutnya, banyak petani sering fokus pada pupuk dan bibit, tetapi lupa bahwa gulma adalah pesaing utama tanaman padi.
“Kalau gulma dibiarkan, nutrisi pupuk justru diserap rumput liar,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan.
Karena itu, penggunaan herbisida pratumbuh dan purnatumbuh disebut menjadi bagian penting dalam strategi meningkatkan hasil panen.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Istilahnya mungkin terdengar teknis.
Tetapi di lapangan, persoalannya sederhana:
Petani ingin hasil panen naik tanpa biaya membengkak.
Dan di situlah teknologi mulai masuk sebagai “senjata baru”.
Rice Transplanter Jadi Simbol Pertanian Modern
Yang menarik, Syahar tidak hanya bicara dari atas panggung.
Ia langsung turun mengoperasikan Rice Transplanter — mesin tanam padi modern yang mulai didorong penggunaannya di Sidrap.
Pemandangan itu cukup simbolis.
Karena selama ini, banyak petani masih menganggap mesin tanam sebagai sesuatu yang mahal atau rumit.
Padahal menurut pemerintah daerah, mekanisasi justru bisa memangkas biaya dan mempercepat proses tanam.
Syahar optimistis kombinasi mesin tanam dan pengendalian gulma modern bisa membuat produktivitas sawah Sidrap melonjak.
“Dengan kombinasi teknologi mesin dan perlindungan tanaman yang pas, saya optimistis produktivitas lahan di Sidrap bisa mencapai 10 ton ke atas per hektare,” katanya.
Kalau target itu tercapai, Sidrap bukan hanya tetap menjadi lumbung beras Sulsel.
Tetapi bisa menjadi salah satu daerah dengan produktivitas tertinggi di Indonesia Timur.
Harga Gabah Sedang “Bersahabat”
Di tengah semangat modernisasi pertanian itu, satu kabar lain ikut membuat petani tersenyum:
harga gabah sedang bagus.
Saat ini berada di kisaran Rp7.300 per kilogram.
Bagi petani, harga adalah segalanya.
Karena hasil panen melimpah tidak banyak berarti jika harga jatuh.
Syahar menyebut kondisi harga saat ini cukup berpihak kepada petani.
Dan itu membuat momentum peningkatan produksi terasa semakin menarik.
Karena petani tidak hanya didorong menanam lebih banyak.
Tetapi juga sedang menikmati harga jual yang relatif menguntungkan.
Update terbaru: 12 Mei 2026 21:38 WIB
