Penulis:
Ibrahim. M

SIDRAP — Kebiasaan masyarakat menggunakan pembayaran digital kini semakin merambah hingga ke tingkat desa. Melihat perubahan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Inovasi Desa Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan program digitalisasi transaksi bagi pelaku usaha mikro di Desa Wette’e, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Program yang digagas Ibrahim Marzuki ini berfokus pada pendampingan pembuatan dan penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM desa.

Melalui program tersebut, para pedagang tidak hanya diperkenalkan dengan sistem pembayaran digital, tetapi juga didampingi secara langsung hingga memiliki QRIS yang dapat digunakan dalam aktivitas jual beli sehari-hari.

UMKM Desa Mulai Masuk Era Digital

Selama ini, sebagian besar transaksi di tingkat pedagang kecil masih mengandalkan pembayaran tunai. Namun, perkembangan teknologi dan perubahan pola belanja masyarakat membuat kebutuhan terhadap metode pembayaran non-tunai semakin meningkat.

Kondisi itu menjadi alasan utama mahasiswa KKN Unhas menghadirkan program digitalisasi transaksi di Desa Wette’e.

Dengan QRIS, pedagang dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital hanya dengan satu kode pembayaran.

Selain lebih praktis, sistem tersebut juga dinilai lebih aman karena mengurangi risiko kehilangan uang tunai dan mempermudah pencatatan transaksi usaha.

Sangat Membantu Saat Perayaan 17 Agustus

Manfaat penerapan QRIS mulai dirasakan masyarakat, terutama menjelang berbagai kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Momentum tersebut biasanya menghadirkan banyak pengunjung dari luar desa yang datang untuk mengikuti perlombaan, hiburan rakyat, maupun aktivitas ekonomi lainnya.

Dalam situasi seperti itu, tidak semua pembeli membawa uang tunai.

Karena itu, keberadaan QRIS menjadi solusi yang memudahkan transaksi.

Salah seorang warga mengaku kehadiran QRIS sangat membantu para pedagang ketika banyak pengunjung dari luar daerah datang berbelanja.

“Adanya QRIS sangat berguna. Bertepatan dengan kegiatan 17 Agustus, banyak pembeli dari luar. Banyak yang tidak membawa uang tunai dan mencari pembayaran QRIS, jadi program ini sangat membantu,” ujarnya.

Dorong UMKM Sidrap Lebih Kompetitif

Menurut Ibrahim Marzuki, digitalisasi pembayaran merupakan salah satu langkah penting agar pelaku UMKM desa mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital yang terus berkembang.

Selain mempermudah transaksi, penggunaan QRIS juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan karena proses pembayaran menjadi lebih cepat dan efisien.

Program ini sekaligus menjadi upaya mengenalkan teknologi keuangan kepada masyarakat desa agar tidak tertinggal dari perkembangan sistem transaksi modern yang kini telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari.

Wujud Pengabdian Mahasiswa untuk Desa

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Inovasi Desa Universitas Hasanuddin tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga membantu menghadirkan solusi nyata bagi pelaku usaha di tingkat desa.

Penerapan QRIS di Desa Wette’e diharapkan dapat terus dimanfaatkan setelah program KKN berakhir dan menjadi langkah awal menuju transformasi ekonomi desa yang lebih modern.

Dengan semakin banyak UMKM yang menggunakan pembayaran digital, peluang usaha untuk menjangkau konsumen yang lebih luas juga semakin terbuka.

Program tersebut menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat, terutama dalam mendukung pertumbuhan UMKM dan mempercepat digitalisasi ekonomi di Kabupaten Sidrap. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini