Kemudian ada Puskesmas Bilokka di Kecamatan Panca Lautang.
Notifikasinya mencapai 36 persen, dengan capaian suspek 80 persen.
Tiga Puskesmas tersebut kini menjadi semacam etalase kinerja pencarian TBC di Sidrap.
Empagae memimpin.
Amparita mengejar.
Bilokka tetap berada di kelompok depan.
Tetapi perlombaan ini tidak punya garis finis yang bisa dirayakan terlalu cepat.
Sebab di belakang papan atas, masih ada Puskesmas yang harus berlari lebih kencang.
Untuk notifikasi kasus TBC, Puskesmas Lancirang berada di posisi terendah dengan capaian 8,5 persen.
Sementara dalam penemuan suspek, Puskesmas Barukku berada di angka 15,8 persen.
Inilah bagian yang menjadi pekerjaan rumah Dinas Kesehatan Sidrap.
Bagaimana membuat kecepatan tiga Puskesmas teratas menular ke Puskesmas lainnya?
Dr. Ishak Kenre menyebut kondisi itu dengan bahasa yang cukup ringan.
“Yang balok kuning dan balok merah berpacu dengan berbagai upaya intervensi penemuan TB. Ini capaian Sidrap per Puskesmas kecamatan, tiga besar hehehe,” ujarnya.
Ada “hehehe” di ujung kalimat.
Tetapi persoalannya serius.
Sebab dalam penanggulangan TBC, yang dikejar bukan sekadar peringkat.
Yang dikejar adalah pasien.
Yang dicari adalah kasus yang belum ditemukan.
Dan yang ingin diputus adalah rantai penularannya.
Karena itu, Mobil X-Ray TB terintegrasi CKG menjadi salah satu senjata tambahan.
Teknologi tersebut diharapkan membuat proses pencarian kasus menjadi lebih agresif, terutama terhadap orang-orang yang mungkin belum menyadari dirinya terinfeksi.
Inilah perubahan pendekatan yang sedang didorong.
Bukan lagi menunggu orang batuk lama kemudian datang berobat.
Tetapi mendatangi masyarakat, melakukan skrining, menemukan lebih cepat, memastikan diagnosis, lalu segera masuk ke pengobatan.
Kalau dianalogikan sebagai perlombaan, Sidrap memang belum boleh mengangkat tangan sebagai pemenang.
Tetapi sudah terlihat siapa pelari yang berada di depan.
Empagae dengan 43,3 persen.
Amparita dengan 39,8 persen.
Bilokka dengan 36 persen.
Sementara yang berada di belakang harus dipacu.
