Karena dalam perang melawan TBC, tidak ada gunanya satu Puskesmas menjadi juara jika kasus yang belum ditemukan masih bersembunyi di wilayah Puskesmas lainnya.
Maka tantangan sampai akhir 2026 bukan hanya mempertahankan tiga besar.
Tantangannya adalah membuat seluruh Puskesmas bergerak.
Yang merah mengejar kuning.
Yang kuning mengejar hijau.
Dan yang sudah hijau jangan sampai mengendur.
Target akhirnya bukan medali.
Bukan piala.
Bukan pula sekadar masuk lima besar.
Target akhirnya jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih penting:
Semakin banyak kasus ditemukan.
Semakin cepat pasien diobati.
Semakin banyak pasien sembuh.
Dan semakin sedikit orang yang tertular.
Sidrap kini sedang berlari menuju target itu.
Empagae sudah menunjukkan kecepatannya.
Amparita memperlihatkan bahwa pencarian suspek bisa digenjot.
Bilokka membuktikan konsistensinya.
Tinggal bagaimana “virus” kerja keras tiga Puskesmas tersebut benar-benar menular—bukan virus TBC-nya.
Kalau itu berhasil, maka perlombaan antar-Puskesmas tidak lagi sekadar soal siapa yang berada di papan atas.
Melainkan bagaimana seluruh Sidrap bisa bergerak bersama untuk membuat TBC kehilangan tempat bersembunyi.
Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)
