Sidrap, katasulsel.com — Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering terjadi jauh dari sorotan publik. Tidak sedikit kasus yang berakhir menjadi rahasia keluarga, tidak dilaporkan, bahkan tidak pernah tercatat secara resmi.

Fakta inilah yang mendorong tim dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan ITKES Muhammadiyah Sidrap turun langsung ke Kelurahan Wette’e, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Bukan sekadar memberikan penyuluhan, mereka membawa sebuah inovasi yang dirancang untuk mempermudah masyarakat melaporkan kasus kekerasan sekaligus memperoleh edukasi secara cepat dan mudah.

Namanya SIPAKALEBI.

Sistem Informasi Perlindungan dan Aduan Siap Lapor Berbasis Empati itu diperkenalkan dalam kegiatan hibah pengabdian kepada masyarakat reguler tahun pendanaan 2026 yang melibatkan pemerintah kelurahan, kader PKK, kader kesehatan, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan warga setempat.

Program yang dipimpin Wilda Rezki Pratiwi tersebut berangkat dari satu persoalan yang selama ini masih menjadi tantangan di banyak daerah, termasuk di Sidrap, yakni rendahnya pelaporan kasus kekerasan dan minimnya pemahaman masyarakat mengenai dampak trauma psikologis yang ditimbulkan.

Melalui SIPAKALEBI, masyarakat diperkenalkan pada mekanisme pelaporan berbasis digital yang dirancang lebih mudah diakses, aman, dan ramah bagi korban maupun keluarga.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya menerima materi penyuluhan kesehatan. Mereka juga mengikuti pelatihan kader, diskusi interaktif, hingga praktik langsung penggunaan aplikasi SIPAKALEBI.

Respons masyarakat pun di luar perkiraan.

Warga yang hadir terlihat aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan terkait pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, perlindungan perempuan, serta langkah yang harus dilakukan ketika menemukan atau mengalami kasus serupa.

Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.

Sebelum edukasi diberikan, nilai rata-rata pemahaman peserta tercatat pada angka 58,4. Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, angka tersebut melonjak menjadi 85,7.

Kenaikan itu menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas yang dipadukan dengan teknologi digital mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu yang selama ini sering dianggap persoalan domestik semata.

Tim dosen ITKES Muhammadiyah Sidrap menilai kader kesehatan dan kader PKK memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi serta mencegah terjadinya kasus kekerasan di lingkungan masyarakat.

Karena itu, penguatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam program tersebut.

Kelurahan Wette’e kini diproyeksikan menjadi salah satu wilayah percontohan dalam penguatan perlindungan perempuan dan keluarga berbasis masyarakat di Kabupaten Sidrap.

Jika model ini berjalan efektif, SIPAKALEBI berpeluang diterapkan lebih luas sebagai media edukasi dan pelaporan yang dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat kelurahan dan desa.

Di tengah berbagai persoalan sosial yang terus berkembang, langkah yang dilakukan di Wette’e memberi pesan sederhana namun penting.

Bahwa mencegah kekerasan tidak cukup hanya dengan imbauan. Dibutuhkan pengetahuan, keberanian untuk melapor, serta sistem yang memudahkan masyarakat mendapatkan perlindungan.

Dan dari sebuah kelurahan di Kecamatan Panca Lautang, Sidrap kini sedang mencoba membangun sistem itu. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini