Enrekang, katasulsel.com β€” Tepat ketika jarum jam mendekati pukul 10 pagi, Alun-alun Abu Bakar Lambogo mendadak berubah menjadi ruang sunyi terbesar di Kabupaten Enrekang.

Tidak ada riuh percakapan. Tidak ada suara kendaraan yang mendominasi. Yang terdengar hanya aba-aba komandan upacara, langkah tegap pasukan, dan sesekali hembusan angin yang mengibarkan merah putih.

Selama beberapa menit, ribuan orang seolah berhenti dari rutinitasnya.

Mereka berdiri. Menatap satu bendera yang perlahan naik ke langit.

Senin, 17 Agustus 2026, Kabupaten Enrekang memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan suasana yang bukan sekadar seremonial. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika Sang Saka Merah Putih mulai meninggalkan tangan para pengibar menuju puncak tiang.

Di mimbar kehormatan, Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga berdiri sebagai inspektur upacara. Ini adalah kali kedua dirinya memimpin detik-detik Proklamasi sejak dipercaya memimpin Kabupaten Enrekang pada Februari 2025.

Di belakangnya, jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, pejabat daerah, tokoh masyarakat, veteran, hingga pelajar ikut menyaksikan prosesi yang menjadi simbol perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Namun pagi itu, perhatian bukan hanya tertuju kepada para pejabat.

Sorotan justru mengarah kepada puluhan pelajar yang tergabung dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

Mereka datang bukan sebagai siswa biasa.

Mereka datang membawa amanah.

Sebanyak 70 anggota Paskibraka Kabupaten Enrekang melangkah mantap memasuki lapangan. Wajah-wajah muda itu terlihat tegang, tetapi penuh keyakinan.

Di tangan merekalah selembar kain merah putih yang dijahit oleh sejarah bangsa kembali diberi penghormatan.

Setiap langkah mereka diikuti ribuan pasang mata.

Setiap gerakan mereka mengundang decak kagum.

Dan ketika bendera mulai bergerak naik, lapangan mendadak terasa lebih hening dari biasanya.

Tidak sedikit peserta yang terlihat menahan emosi.

Bagi para veteran yang hadir, momen itu seperti membawa mereka kembali pada cerita perjuangan puluhan tahun silam.

Bagi generasi muda, itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang hari ini dinikmati bukanlah hadiah yang datang begitu saja.

Usai pengibaran, suasana semakin khidmat saat Bupati Yusuf Ritangnga memimpin mengheningkan cipta.

Seluruh peserta menundukkan kepala.

Sejenak, Enrekang seperti berhenti bergerak.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada perbedaan.

Yang ada hanya satu identitas: Indonesia.

Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Ketua DPRD Enrekang, Ikrar Eran Batu, yang menggema di seluruh lapangan dan mengingatkan kembali pada kalimat bersejarah yang mengubah arah perjalanan bangsa.

Peringatan HUT RI ke-81 di Enrekang tahun ini mungkin hanya berlangsung beberapa puluh menit.

Namun maknanya jauh lebih panjang.

Karena sesungguhnya, kemerdekaan tidak hanya hidup di dalam buku sejarah.

Ia hidup di lapangan-lapangan upacara.

Di wajah para veteran.

Di langkah para pelajar.

Dan di hati masyarakat yang pagi itu berdiri bersama, menatap satu bendera yang berkibar di langit Enrekang.

Bendera yang sama.

Bendera yang selama 81 tahun mengingatkan bangsa ini bahwa persatuan selalu lebih besar daripada perbedaan. (FungFi)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Enrekang hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Enrekang terbaru di sini