MAKASSAR — Puluhan pelaku usaha mikro dari Kabupaten Luwu Timur memadati salah satu hotel di Kota Makassar selama lima hari terakhir. Mereka datang bukan untuk berwisata, melainkan mengikuti pelatihan kewirausahaan yang dirancang untuk membekali mereka menghadapi tantangan dunia usaha yang semakin kompetitif.
Sebanyak 40 wirausaha pemula dan pelaku UMKM mengikuti Pelatihan Kewirausahaan Pemula yang digelar hasil kolaborasi Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta Perindustrian (Disdagkop-UKMP).
Mengangkat tema “Membangun Wirausaha Mandiri Berbasis Potensi Lokal Luwu Timur”, kegiatan yang berlangsung di Makassar pada 24–28 Juni 2026 itu menjadi ruang belajar bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnis mereka, mulai dari pengelolaan usaha hingga strategi memperluas pasar.
Bagi warga Makassar, kegiatan ini menjadi bukti bahwa ibu kota Sulawesi Selatan masih menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia dan inkubator lahirnya pelaku usaha baru dari berbagai daerah.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi tentang pola pikir kewirausahaan, pemetaan peluang usaha berbasis potensi lokal, penyusunan Business Model Canvas, pemasaran digital, pembukuan sederhana, hingga pengurusan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), izin edar produk, dan sertifikat halal.
Tak hanya belajar di dalam kelas, para peserta juga diajak melihat langsung praktik pengembangan produk di House of Rewako Bank Indonesia dan Rumah Kemasan PLUT-KUMKM Sulawesi Selatan. Di lokasi tersebut mereka mempelajari bagaimana sebuah produk lokal dapat tampil lebih menarik melalui desain kemasan yang profesional dan sesuai standar pasar modern.
Kepala Disdagkop-UKMP Kabupaten Luwu Timur, Senfry Oktavianus, mengatakan penguatan kapasitas pelaku usaha merupakan investasi jangka panjang bagi perekonomian daerah.
Menurutnya, banyak usaha mikro memiliki potensi besar namun terkendala pada aspek manajemen, pemasaran, hingga legalitas produk. Karena itu, pelatihan semacam ini dinilai penting untuk membantu pelaku usaha naik kelas.
“Harapan kami, peserta yang mengikuti pelatihan ini bisa menjadi motor penggerak lahirnya usaha-usaha baru yang lebih maju dan mampu menciptakan lapangan kerja di Luwu Timur,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua ABDSI Sulawesi Selatan, Ahyar Muawwal, menegaskan bahwa pendampingan terhadap pelaku usaha tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
Ia menilai, tantangan terbesar pelaku UMKM bukan hanya memulai usaha, tetapi mempertahankan dan mengembangkannya secara berkelanjutan. Karena itu, peserta didorong untuk segera menerapkan ilmu yang diperoleh agar usaha yang dijalankan memiliki arah dan strategi yang jelas.
Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berharap potensi lokal yang selama ini dimiliki masyarakat dapat diolah menjadi produk unggulan yang mampu bersaing tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga menembus pasar yang lebih luas.
Dari Makassar, puluhan calon pengusaha itu pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat pelatihan. Mereka membawa bekal pengetahuan, jaringan, dan harapan baru untuk menggerakkan ekonomi dari desa dan kecamatan di Luwu Timur.
