SOPPENG — Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering kali identik dengan seminar, penyuluhan, atau kegiatan seremonial. Namun tahun ini, mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang akan menjalankan KKN di Kabupaten Soppeng mendapat pesan khusus: jangan hanya datang membawa spanduk program, tetapi hadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam pembekalan mahasiswa KKN Gelombang 116 Kabupaten Soppeng yang digelar secara daring oleh Subdirektorat Pendidikan Berbasis Pengabdian kepada Masyarakat (PBPM) Unhas, Minggu (28/6).
Koordinator Kabupaten Soppeng, Dr. Ir. Andi Sadapotto MP, menegaskan bahwa KKN tahun ini mengusung pendekatan yang berbeda. Mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai peserta pengabdian, tetapi sebagai penggerak perubahan yang mampu membantu desa menemukan dan menyelesaikan persoalannya sendiri.
“Program yang dirancang harus berbasis kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata, bukan sekadar memenuhi agenda kegiatan selama berada di desa,” ujarnya.
Menurut Sadapotto, skema KKN yang diterapkan berfokus pada empat pilar utama, yakni membangun kesadaran masyarakat, meningkatkan keterlibatan warga, mengintegrasikan program mahasiswa dengan pembangunan desa, serta mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai konsep Desa Membangun, yaitu menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar penerima program.
Bagi masyarakat Soppeng, kehadiran mahasiswa KKN diharapkan dapat menjadi energi baru dalam mendorong berbagai inovasi desa. Mulai dari pengembangan UMKM, pemanfaatan teknologi digital, pengelolaan lingkungan, hingga pemberdayaan kelompok masyarakat yang selama ini membutuhkan pendampingan.
Sadapotto menekankan bahwa keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan sejauh mana masyarakat terlibat dan memperoleh manfaat setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Karena itu, para mahasiswa diminta lebih banyak mendengar daripada mengarahkan, lebih banyak berdialog daripada memberi instruksi, serta menyesuaikan program dengan kondisi dan kebutuhan riil masyarakat setempat.
“Keterlibatan warga sejak perencanaan hingga pelaksanaan menjadi faktor penting. Jika masyarakat terlibat aktif, maka manfaat program akan lebih terasa dan berkelanjutan,” katanya.
Melalui pembekalan ini, mahasiswa Unhas diharapkan tidak hanya meninggalkan laporan akhir KKN, tetapi juga jejak perubahan yang bisa terus dirasakan masyarakat desa di Kabupaten Soppeng setelah masa pengabdian berakhir.
Bagi warga Soppeng, kedatangan mahasiswa KKN tahun ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Mereka diharapkan menjadi mitra pembangunan yang mampu membawa ide, semangat, dan solusi untuk menjawab berbagai tantangan di tingkat desa.(*)
