Enrekang, Katasulsel.com — Bagi banyak pelancong yang menuju Tana Toraja, Enrekang sering dianggap hanya sebagai daerah yang dilewati. Padahal, kabupaten yang berada di jantung Sulawesi Selatan ini menyimpan pesona yang membuat banyak orang akhirnya memilih berhenti lebih lama.

Kabupaten Enrekang dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Bukit”, sebuah sebutan yang lahir dari bentang alamnya yang dipenuhi perbukitan, lembah hijau, dan pegunungan yang membentang sejauh mata memandang.

Saat memasuki wilayah ini dari arah Parepare, pengunjung akan langsung disambut panorama alam yang berbeda. Jalan berkelok membelah perbukitan, kabut tipis sering turun pada pagi hari, sementara udara sejuk menjadi teman sepanjang perjalanan.

Tidak heran jika banyak wisatawan menyebut Enrekang sebagai salah satu jalur darat paling indah di Sulawesi Selatan.

Salah satu ikon yang paling terkenal adalah Gunung Nona. Tebing batu raksasa yang menjulang di kawasan Bambapuang itu telah lama menjadi landmark Kabupaten Enrekang.

Dari lokasi tersebut, wisatawan dapat menikmati hamparan lembah dan gugusan pegunungan yang terlihat seperti lukisan alam. Bagi pengendara yang melintas menuju Toraja, berhenti sejenak di Bambapuang hampir menjadi tradisi.

Namun Enrekang bukan hanya tentang Gunung Nona.

Di Kecamatan Anggeraja, terdapat Dante Pine, kawasan wisata hutan pinus yang menawarkan suasana tenang dan udara pegunungan yang segar. Tempat ini menjadi favorit keluarga maupun anak muda yang ingin menikmati alam tanpa harus mendaki gunung.

Bagi pencinta petualangan, nama Latimojong tentu tidak asing. Kawasan pegunungan ini merupakan rumah bagi Gunung Rantemario, puncak tertinggi di Sulawesi Selatan dengan ketinggian mencapai 3.478 meter di atas permukaan laut.

Mendaki Rantemario bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga pengalaman menaklukkan salah satu medan pendakian paling menantang di Pulau Sulawesi.

Selain alamnya, Enrekang juga memiliki kekayaan kuliner yang sulit ditemukan di daerah lain.

Salah satunya adalah Dangke, makanan khas yang sering disebut sebagai “keju tradisional Sulawesi Selatan”. Terbuat dari susu sapi atau kerbau yang diolah secara tradisional, dangke memiliki cita rasa gurih dengan tekstur yang khas.

Bagi wisatawan, menikmati dangke hangat bersama nasi dan sambal menjadi pengalaman kuliner yang hampir selalu masuk daftar wajib saat berkunjung ke Enrekang.

Kabupaten ini juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi bawang merah terbesar di Sulawesi Selatan. Hamparan kebun bawang yang menghiasi lereng-lereng perbukitan menjadi pemandangan yang mudah ditemukan saat melintasi sejumlah kecamatan.

Meski berjarak sekitar 230 kilometer dari Makassar, perjalanan menuju Enrekang justru menjadi bagian dari daya tariknya. Jalur yang melewati Parepare menawarkan panorama alam yang terus berubah, dari pesisir hingga pegunungan.

Karena itu, bagi sebagian orang, Enrekang bukan lagi sekadar daerah persinggahan menuju Toraja.

Ia adalah destinasi tersendiri. Sebuah tempat di mana gunung, lembah, kabut, dan kuliner khas berpadu menjadi pengalaman yang membuat siapa pun ingin kembali lagi. (din)