Soppeng, katasulsel.com — Anjloknya jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Wisata Alam (TWA) Lejja sepanjang 2025 kini berujung pada sorotan serius terhadap kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Lamataesso Perseroda Soppeng, Musdar Asman. Penurunan tajam tersebut dinilai bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan cerminan kegagalan manajerial dalam mengelola destinasi unggulan daerah.

Data menunjukkan, sepanjang Januari hingga Desember 2025, total kunjungan wisatawan ke TWA Lejja hanya mencapai sekitar 87.743 orang. Angka ini merosot tajam dibandingkan capaian tahun 2024 yang berada di kisaran 120.000 pengunjung.

Ironisnya, penurunan juga terjadi pada momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025—periode yang lazim menjadi masa panen wisata. Pada rentang 20–31 Desember 2025, jumlah pengunjung TWA Lejja tercatat hanya 6.716 orang, jauh dari ekspektasi sebagai destinasi andalan.

Situasi ini memantik kritik terbuka dari Pemerhati Wisata Soppeng, Amiruddin, yang menilai penurunan hampir sepanjang tahun sebagai alarm keras bagi kepemimpinan pengelola.

“Sebagai Plt Direktur Utama, tanggung jawabnya jelas ada di pimpinan. Kalau tidak sanggup mengelola dan membalikkan keadaan, sikap paling elegan adalah legawa untuk mundur,” tegas Amiruddin.

Menurutnya, status pelaksana tugas tidak bisa dijadikan alasan untuk lemahnya kinerja. Justru, posisi Plt memiliki kewenangan penuh untuk mengambil langkah cepat dan strategis.

“Plt itu bukan sekadar pengisi kursi. Dia diberi mandat mengelola. Ketika hasilnya justru penurunan drastis, itu menunjukkan kegagalan kepemimpinan, bukan sekadar hambatan teknis,” ujarnya.

Amiruddin juga menyoroti bahwa tantangan ekonomi dan persaingan destinasi bukan hanya dialami TWA Lejja. Namun, tidak semua daerah mengalami penurunan sedalam yang terjadi di Lejja.

“Daerah lain menghadapi kondisi serupa, tapi tetap bisa bertahan. Artinya, ada persoalan serius dalam strategi dan eksekusi di internal pengelola,” tambahnya.

Menanggapi sorotan tersebut, Plt Dirut PT Lamataesso Perseroda Soppeng, Musdar Asman, melalui pernyataan resmi kepada redaksi katasulsel.com, mengakui bahwa dinamika kunjungan wisata sepanjang 2025 menjadi bahan evaluasi manajemen.

Ia menyebut penurunan kunjungan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal antara lain melemahnya daya beli masyarakat serta meningkatnya pilihan destinasi wisata. Sementara dari sisi internal, manajemen mengakui perlunya penguatan promosi, inovasi produk, dan konsistensi pelayanan.

Musdar juga mengklaim bahwa setelah terbentuknya susunan direksi baru, sejumlah langkah pembenahan mulai dijalankan. Menurutnya, tren kunjungan menunjukkan perbaikan pada semester kedua 2025, khususnya periode Juli hingga Desember.