MAKASSAR — Kota ini tidak sedang biasa-biasa saja, Sabtu sore itu (28/2/2026). Di Jalan Andi Mangerangi No. 5C, Tamalate, suasana Makassar terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di rumah itu, jenazah Andi Muhammad Yasir disemayamkan. Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Makassar itu berpulang di usia 59 tahun, setelah menjalani perawatan intensif di RSKD Dadi.
Bukan hanya keluarga yang kehilangan. Makassar kehilangan salah satu pilar birokrasi yang sudah 37 tahun mengabdi tanpa banyak suara.
Sejak 1 Maret 1989, saat ia resmi menjadi CPNS, Andi Muhammad Yasir memulai perjalanan panjangnya sebagai aparatur sipil negara. Dari golongan II, menapaki satu per satu jenjang hingga mencapai Pembina Utama Madya (IV/d). Bukan lompatan. Tapi pendakian.
Kariernya berputar hampir ke semua sudut pemerintahan Kota Makassar. Pernah menjadi Camat Biringkanaya, Mamajang, dan Rappocini. Pernah memimpin Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, hingga Dinas Perdagangan. Ia juga sempat dipercaya sebagai Pejabat Sekretaris Daerah.
Terakhir, sejak 2021, ia mengemban amanah sebagai Asisten I Setda Kota Makassar—jabatan yang tidak ringan. Membidangi pemerintahan dan kesejahteraan rakyat. Dua urusan yang selalu sensitif.
Di kantor, Andi Muhammad Yasir dikenal bukan sebagai pejabat yang banyak bicara. Ia lebih sering menjadi pendengar. Tenang. Tidak meledak-ledak. Tapi ketika berbicara, kalimatnya terukur.
Bahasa populernya: low profile, high impact.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memimpin langsung prosesi pelepasan. Suaranya terdengar berat.
“Almarhum dikenal sebagai ASN yang pekerja keras, loyal, dan memiliki integritas tinggi,” ucapnya.
Munafri—yang akrab disapa Appi—menyebut kepergian Andi Muhammad Yasir sebagai kehilangan besar bagi Makassar.
Dan memang begitu.
Dalam dinamika birokrasi yang sering kali keras dan penuh tekanan, Andi Muhammad Yasir justru menjadi penyejuk. Ia menjembatani komunikasi antar-OPD. Ia mengurai simpul koordinasi yang kusut. Ia hadir bukan untuk tampil, tapi untuk menyelesaikan.
Isak tangis keluarga pecah saat penghormatan terakhir diberikan. Para pelayat—Forkopimda, pimpinan OPD, ASN, tokoh masyarakat—berdiri khidmat. Tidak ada hiruk-pikuk. Hanya doa.
Jenazah kemudian diberangkatkan ke Masjid Raya Makassar untuk dishalatkan sebelum dimakamkan di TPU Panaikang, Panakkukang.
Lahir di Kendari, 10 Mei 1966, Andi Muhammad Yasir menuntaskan pendidikan hingga S2 di Universitas Gadjah Mada. Ia menerima Satyalancana Karya Satya 20 Tahun pada 2009. Tapi penghargaan sejatinya bukan medali. Melainkan kepercayaan yang terus diberikan kepadanya selama hampir empat dekade.
Di akhir sambutannya, Munafri mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Makassar untuk melanjutkan pengabdian almarhum.
“Sepeninggal beliau, menjadi kewajiban kita untuk melanjutkan cita-cita dan pengabdiannya,” katanya.
Makassar hari ini bukan hanya kehilangan seorang pejabat.
Makassar kehilangan seorang pamong. Seorang birokrat yang memilih bekerja dalam diam. Yang tidak mengejar sorotan. Tapi meninggalkan jejak.
Dan nama itu—Andi Muhammad Yasir—akan tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan pemerintahan Kota Makassar. (*)

Tinggalkan Balasan