Makassar, katasulsel.com — Ramadan di Makassar itu bukan cuma soal menahan lapar.

Ini soal gaya.

Sore hari, kota berubah. Jalanan padat. Motor berjejer. Kamera ponsel aktif. Kata kunci “tempat ngabuburit di Makassar” langsung ramai dicari.

Dan satu nama tak pernah absen: Pantai Losari.

Di sinilah senja paling jujur di Makassar turun pelan. Langit oranye, angin laut, anak muda duduk melingkar di tangga beton menghadap air.

“Saya hampir tiap Ramadan ke sini,” kata Fikri (22), mahasiswa di Makassar. “Vibenya beda. Kalau buka puasa lihat sunset, rasanya puasanya lebih afdal.”

Di sampingnya, Nabila (19) sibuk ambil video slow-motion. “Ini konten wajib. Sunset Makassar itu aesthetic banget,” ujarnya sambil tertawa.

Losari mungkin klasik. Tapi justru karena itu, ia tak tergantikan.

Bergeser sedikit ke kawasan modern, Center Point of Indonesia (CPI) kini jadi magnet baru ngabuburit paling keren di Makassar.

Hamparan luas, jalur jogging, spot duduk santai, dan deretan kuliner Ramadan bikin tempat ini seperti festival sore.

“Kalau mau nongkrong rame-rame tapi tetap luas, ya di CPI,” kata Aldi (24), karyawan swasta. “Kita bisa olahraga ringan dulu, baru buka puasa bareng.”

Sementara Salsabila (21) punya alasan lain. “Di sini lighting-nya bagus. Jam 17.30 itu golden hour banget. Foto pasti cakep.”

Makassar memang sedang gandrung pada senja.

Tak jauh dari sana, Fort Rotterdam juga tak kalah ramai. Benteng tua ini menghadirkan sensasi ngabuburit berbeda.

“Kalau di sini tuh berasa klasik. Kayak ngabuburit sambil napak tilas sejarah,” kata Arman (23). “Beda dari mall. Lebih tenang.”

Beberapa komunitas fotografi bahkan sengaja memilih Fort Rotterdam sebagai titik kumpul. Background bangunan kolonial berpadu cahaya sore jadi magnet visual yang kuat.

Namun bagi warga Makassar yang lebih pragmatis, ngabuburit artinya satu: berburu takjil.

Kawasan Boulevard–Panakkukang setiap sore berubah jadi lautan pedagang musiman. Jalangkote panas, es pisang ijo, coto, es buah warna-warni.

“Kalau belum mutar cari takjil, rasanya belum Ramadan,” kata Ibu Rina (38), warga Panakkukang. “Macet sedikit tidak apa-apa, yang penting dapat kolak favorit.”

Memang, menjelang magrib, beberapa ruas jalan Makassar berubah padat. Tapi justru itu denyutnya. Ramadan di Makassar selalu terasa hidup.

Yang menarik, tren ngabuburit 2026 makin terasa digital. Banyak anak muda datang bukan hanya untuk menikmati suasana, tapi juga membangun personal branding.

“Sekarang orang cari ‘ngabuburit Makassar’ di Google,” kata Dimas (25), content creator lokal. “Kalau tempatnya unik, pasti viral.”

Makassar seperti sadar: ia bukan hanya kota pelabuhan. Ia kota pengalaman.

Sunset-nya kuat. Kuliner-nya kaya. Anak mudanya kreatif.

Dan bagi siapa pun yang mencari tempat ngabuburit paling keren di Makassar, jawabannya bukan satu titik saja.

Ia ada di Losari yang romantis.
Di CPI yang modern.
Di Fort Rotterdam yang historis.
Di Boulevard yang penuh aroma takjil.

Karena di Makassar, menunggu azan bukan sekadar jeda waktu.

Ia sudah jadi budaya.(*)

Gambar berita Katasulsel

Terima kasih telah membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Kami selalu menghadirkan fakta jernih, analisis mendalam, dan berita terkini. Jangan lewatkan berita pilihan lainnya secara gratis melalui saluran WhatsApp resmi kami: Gabung di sini.