Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 494 Lihat semua

Sidrap, katasulsel.com — Air keras itu memang disiram ke tubuh Andrie Yunus. Tapi gaungnya menyiram lebih jauh: ke rasa aman, ke kebebasan sipil, ke wajah demokrasi.

Serangan terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu memantik kecaman keras. Dari Sidrap, suara lantang datang dari Koordinator LBH Mata Air Keadilan Kabupaten Sidrap, M. Ichsan Azhari, S.H.

Ia tidak main-main. Ia mengecam. Ia menyoroti. Ia juga mendesak kepolisian agar tidak lamban.

Menurut Ichsan, kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus bukan perkara kriminal biasa. Ini lebih dari sekadar serangan fisik. Ini serangan terhadap orang yang berdiri di barisan depan suara kritis.

“Penyiraman air keras terhadap saudara Andrie Yunus adalah tindakan biadab. Ini tidak bisa dianggap peristiwa biasa. Kami mengecam keras dan mendesak kepolisian mengusut tuntas pelakunya,” tegas Ichsan, Minggu, 15 Maret 2026.

Peristiwa itu sendiri terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, saat Andrie Yunus diduga diserang oleh orang tak dikenal. Air keras disiramkan ke tubuh korban. Akibatnya bukan hanya luka fisik. Tapi juga luka pada akal sehat publik: mengapa aktivis masih bisa diserang dengan cara sekeji itu?

Bagi Ichsan, pertanyaannya sekarang bukan cuma siapa pelakunya. Tapi juga: siapa di belakangnya, apa motifnya, dan mengapa keberanian menyerang aktivis bisa muncul seterang itu?

Itu sebabnya, ia meminta polisi tidak bekerja setengah jalan.

Jangan berhenti pada pelaku lapangan.

Jangan puas dengan penangkapan cepat jika otak serangan tidak disentuh.

Jangan biarkan kasus ini redup seperti kabar kemarin sore.

“Kalau kasus seperti ini tidak diusut sampai tuntas, publik akan curiga. Negara seperti kalah di hadapan teror. Padahal aktivis adalah bagian dari warga negara yang harus dilindungi,” ujar Ichsan.

Nada Ichsan jelas: keras. Sebab yang diserang bukan orang sembarangan. Andrie Yunus dikenal sebagai aktivis KontraS, lembaga yang selama ini vokal mengawal isu hak asasi manusia, kekerasan, dan keadilan.

Karena itu, serangan ini, dalam pandangan Ichasan, mengirim pesan menakutkan.

Bahwa suara kritis bisa dijawab dengan kekerasan. Bahwa keberanian bersuara bisa dibalas dengan cairan mematikan.

Dan itu berbahaya.

Sangat berbahaya.

“Ini alarm bagi demokrasi. Kalau pembela keadilan diteror, lalu negara diam atau lambat bergerak, maka publik akan kehilangan kepercayaan. Hukum harus hadir. Cepat. Tegas. Terbuka,” katanya lagi.

Ichsan juga menekankan bahwa korban harus mendapatkan perlindungan penuh. Bukan hanya perawatan medis, tetapi juga pendampingan hukum dan jaminan keamanan. Sebab dalam kasus seperti ini, korban kerap harus menanggung beban berlapis: sakit fisik, trauma psikis, dan ketidakpastian hukum.

LBH Mata Air Keadilan Sidrap, kata dia, berdiri bersama korban dan seluruh pejuang hak asasi manusia yang menolak intimidasi dalam bentuk apa pun.

Ia menilai, jika kekerasan terhadap aktivis dibiarkan, ruang demokrasi akan makin sempit. Orang akan takut bicara. Takut mengkritik. Takut membela yang lemah.

Padahal demokrasi justru hidup dari suara-suara yang berani.

“Tidak boleh ada toleransi terhadap aksi seperti ini. Polisi harus memburu pelaku, membongkar motif, dan mengungkap apakah ada aktor lain di belakang serangan tersebut,” tegasnya.

Desakan itu bukan berlebihan.

Sebab penyiraman air keras bukan kekerasan biasa. Cara ini dikenal brutal. Menyakitkan. Meninggalkan bekas panjang. Bukan hanya di tubuh korban, tapi juga di ingatan publik.

Maka, kata Ichsan, negara wajib menunjukkan bahwa hukum tidak boleh kalah oleh teror.

Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah mereka yang selama ini memperjuangkan keadilan bagi orang lain.

Di titik itu, kasus Andrie Yunus tak lagi semata urusan satu korban dan satu pelaku. Ini sudah menjadi ujian: seberapa serius aparat menjaga demokrasi dari serangan yang mencoba membungkam suara sipil.

Publik kini menunggu.

Bukan sekadar pernyataan.

Bukan sekadar janji.

Tapi kerja nyata: tangkap pelaku, bongkar motif, usut sampai ke akar.

Kalau tidak, air keras itu akan terasa bukan cuma mengenai tubuh Andrie Yunus.

Melainkan juga menyiram wajah hukum kita. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.