Sidrap, katasulsel.com — Cara kerja penanggulangan bencana di Sidrap mulai naik level. Tak lagi sekadar respons saat kejadian, kini BPBD Kabupaten Sidenreng Rappang mulai tancap gas lewat berbagai inovasi berbasis teknologi dan kebutuhan lapangan.

Lewat Kelas Inovasi Daerah yang difasilitasi Bapperida Sidrap, sejumlah ide segar bermunculan dari para inovator internal. Uniknya, masing-masing fokus pada titik krusial penanganan bencana—dari edukasi sampai distribusi bantuan.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah EDUKANSA, gagasan Muhammad Ridwan Arisandi. Program ini memanfaatkan media sosial sebagai “senjata” edukasi kebencanaan. Tujuannya sederhana tapi penting: bikin masyarakat cepat paham cara menghadapi bencana, langsung dari genggaman.

Di sisi lain, Ardi Anugrah menghadirkan PABBISE—program aksi kebencanaan yang mengandalkan kolaborasi warga. Konsepnya, respons cepat bukan cuma tugas pemerintah, tapi juga melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi.

Masuk ke sektor logistik, Kasmawati menggagas MAPATO, sistem yang memungkinkan stok bantuan dipantau secara otomatis dan real-time. Jadi, tidak ada lagi cerita bantuan telat atau tidak merata.

Sementara itu, Ilham Amsir lewat SIPANDA fokus pada data. Sistem ini dirancang untuk mengelola data kebencanaan secara terintegrasi—biar keputusan yang diambil tidak lagi berbasis kira-kira, tapi data yang akurat.

Empat inovasi ini menunjukkan arah baru: penanganan bencana yang lebih modern, cepat, dan terukur.

Bukan cuma soal tanggap darurat, tapi juga bagaimana membangun sistem yang siap sebelum bencana datang.

Kalau terus dikembangkan, bukan tidak mungkin Sidrap bisa jadi salah satu daerah dengan sistem penanggulangan bencana paling adaptif—di mana teknologi, data, dan peran masyarakat berjalan bareng dalam satu sistem yang solid.(*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita