Sidrap, katasulsel.com — Cara mengajar agama di sekolah diminta berubah. Bukan lagi sekadar hafalan dan teori, tapi menyentuh hati siswa. Itulah pesan kuat dari Muhammad Idris Usman kepada para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sidrap.
Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya pendekatan baru yang disebut “kurikulum berbasis cinta”. Bukan istilah kosong, tapi cara mengajar yang menempatkan empati, kepedulian, dan rasa hormat sebagai inti pembelajaran.
“Anak-anak tidak cukup hanya pintar, tapi harus punya hati. Di situlah peran guru PAI,” ujarnya.
Menurutnya, ruang kelas tidak boleh lagi terasa kaku. Guru diminta menghadirkan suasana yang lebih hangat, dialogis, dan membangun kedekatan emosional dengan siswa. Tujuannya sederhana: ilmu agama tidak hanya dipahami, tapi juga dirasakan dan dipraktikkan.
Pendekatan ini juga dinilai relevan dengan kondisi saat ini, di mana tantangan sosial semakin kompleks. Nilai toleransi, saling menghargai, dan hidup berdampingan jadi bekal penting yang harus ditanamkan sejak dini.
Tak hanya itu, guru juga didorong lebih kreatif, termasuk memanfaatkan teknologi agar pembelajaran lebih dekat dengan dunia siswa.
Langkah ini menjadi penegasan bahwa pendidikan agama bukan sekadar urusan nilai rapor. Lebih dari itu, ia adalah fondasi karakter.
Di Sidrap, pesan itu kini mulai digaungkan: dari papan tulis ke hati—guru PAI diminta tidak hanya mengajar, tapi juga menanamkan cinta.(*)
