SIDRAP — Kalimat yang sering dianggap sepele seperti mengejek teman, memberi julukan yang menyakitkan, atau mengucilkan seseorang dari pergaulan ternyata bisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang dibayangkan.

Kesadaran itulah yang coba ditanamkan Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin melalui program edukasi psikologi bertajuk “KITA TEMAN, BUKAN LAWAN: Bersama Belajar Menghargai dan Mencegah Bullying” di UPT SD Negeri 9 Benteng, Kelurahan Benteng, Kabupaten Sidrap.

Kegiatan yang dibawakan oleh Naswa Nur Ahlina, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Hasanuddin, diikuti 31 siswa kelas VI yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak, isu bullying kini menjadi salah satu tantangan yang tidak bisa lagi dianggap remeh. Banyak kasus perundungan berawal dari candaan yang dianggap biasa, tetapi ternyata meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi korban.

Karena itu, edukasi sejak usia sekolah dasar dinilai menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Bercanda Ada Batasnya

Dalam penyuluhan tersebut, para siswa diajak memahami bahwa bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik.

Ucapan yang merendahkan, ejekan berulang, mengucilkan teman dari kelompok pergaulan, hingga mempermalukan seseorang di depan orang lain juga termasuk bentuk perundungan yang dapat melukai perasaan dan kepercayaan diri korban.

Materi disampaikan dengan bahasa sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Berbagai contoh situasi yang sering terjadi di lingkungan sekolah digunakan agar peserta lebih mudah memahami perbedaan antara bercanda dan tindakan yang sudah masuk kategori bullying.

Suasana kelas berlangsung hidup. Para siswa aktif bertanya, berbagi pengalaman, bahkan menceritakan kejadian yang pernah mereka lihat di lingkungan sekolah.

Belajar Empati Lewat Permainan

Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah pendekatan yang digunakan.

Selain penyuluhan dan diskusi, mahasiswa juga menghadirkan kuis serta permainan interaktif yang dirancang untuk menumbuhkan empati, kerja sama, dan rasa saling menghargai.

Melalui permainan tersebut, siswa diajak memahami bahwa setiap orang memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang yang berbeda.

Perbedaan itu bukan alasan untuk mengejek atau merendahkan, melainkan sesuatu yang harus dihormati.

Sebelum materi dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mengenai bullying. Setelah kegiatan selesai, mereka kembali mengerjakan post-test sebagai bagian dari evaluasi.

Hasil pengamatan selama kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai dampak bullying dan pentingnya membangun hubungan pertemanan yang sehat.

Pengakuan Jujur dari Siswa

Salah satu momen yang paling menarik terjadi pada sesi penutupan.

Seorang siswa mengaku baru menyadari bahwa tindakan yang selama ini dianggap bercanda ternyata bisa berdampak besar bagi orang lain.

“Saya senang sekali ikut penyuluhan ini karena baru pertama kali saya ikut penyuluhan tentang bullying. Ternyata bullying itu bukan cuma membuat orang sedih, tapi juga bisa berdampak pada kesehatan fisik dan psikologis. Sekarang saya jadi lebih paham kalau bercanda juga ada batasnya,” ungkapnya.

Pernyataan sederhana itu menjadi gambaran bahwa edukasi semacam ini mampu membuka perspektif baru bagi anak-anak usia sekolah.

Sekolah Harus Jadi Tempat yang Aman

Kepala UPT SD Negeri 9 Benteng, Abdullah, menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan siswa saat ini.

Menurutnya, pendidikan karakter tidak hanya dilakukan melalui proses belajar mengajar di kelas, tetapi juga melalui pembentukan budaya saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh siswa dari kegiatan tersebut dapat diterapkan secara nyata sehingga lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.

Bagi mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin, program ini bukan sekadar penyuluhan satu hari.

Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal membangun generasi yang memiliki empati tinggi, mampu menghormati perbedaan, dan berani menghentikan segala bentuk bullying.

Karena pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya tempat untuk belajar membaca dan berhitung, tetapi juga tempat anak-anak belajar menjadi manusia yang menghargai sesama.


Penulis: Naswa Nur Ahlina
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Hasanuddin, KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Topik Terkait: Sidrap
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini