Makassar, katasulsel.com – Di tengah pembahasan stabilitas harga pangan menjelang Iduladha 2026, Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, memilih membawa satu isu yang sangat dekat dengan denyut ekonomi masyarakatnya: nasib peternak ayam petelur.

Dalam forum High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (7/5/2026), Syaharuddin menyoroti tekanan yang kini dirasakan peternak akibat kenaikan harga pakan yang tidak sebanding dengan harga jual telur di pasar.

Menurutnya, kondisi ini mulai menggerus margin usaha para peternak, khususnya di Sidrap yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia Timur.

“Biaya produksi naik karena harga pakan meningkat, sementara harga telur justru turun. Ini yang sedang dirasakan peternak kita,” ujar Syaharuddin dalam forum tersebut.

Karena itu, ia meminta dukungan konkret dari pemerintah pusat maupun lembaga terkait agar sektor peternakan tetap bertahan.

Salah satu yang didorong adalah percepatan penyaluran SPHP jagung oleh Bulog untuk membantu menjaga stabilitas harga bahan baku pakan ternak.

Selain itu, Syaharuddin juga berharap adanya dukungan pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) peternakan yang difasilitasi Bank Indonesia dan kementerian terkait.

Menurutnya, akses pembiayaan yang lebih cepat akan membantu peternak menjaga cash flow usaha di tengah tekanan biaya operasional.

Forum TPID Sulsel kali ini dipimpin Wakil Gubernur Sulsel, Fatmawati Rusdi, dan dihadiri sejumlah kepala daerah, Bank Indonesia, Bulog, BPS, hingga Satgas Pangan Polda Sulsel.

Meski agenda utama membahas pengendalian inflasi jelang hari besar keagamaan, perhatian terhadap sektor peternakan menjadi salah satu isu yang mengemuka.

Bagi Sidrap, sektor ini bukan sekadar urusan ekonomi lokal, tetapi bagian penting dari ketahanan pangan regional.

Karena itu, Syaharuddin menilai keberlangsungan usaha peternak perlu dijaga melalui kebijakan yang tepat dan respons cepat terhadap dinamika pasar.

“Peternak jangan sampai bekerja keras tetapi semakin tertekan karena biaya produksi yang terus meningkat,” tandasnya. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita