SIDRAP — Menjadi juara ternyata bukan akhir dari perjalanan. Setelah dinobatkan sebagai Kabupaten Terbaik Kawasan Sulawesi dalam ajang Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Tahun 2025, Sidrap kini menghadapi tantangan yang lebih besar: membumikan transaksi digital hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.

Targetnya tidak main-main. Pemerintah Kabupaten Sidrap ingin penggunaan QRIS tidak hanya ditemukan di kantor pemerintahan atau pusat perbelanjaan, tetapi juga di pasar tradisional, warung kecil, pelaku UMKM, hingga kotak amal masjid.

Komitmen tersebut mengemuka dalam High Level Meeting (HLM) TP2DD dan Monitoring Evaluasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) Triwulan II Tahun 2026 yang dipimpin langsung Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif bersama Wakil Bupati Nurkanaah, Senin (29/6/2026).

Di hadapan jajaran pemerintah daerah, perbankan, dan Bank Indonesia, Syaharuddin mengingatkan bahwa mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dibanding meraihnya.

Menurutnya, penghargaan TP2DD terbaik harus menjadi pemicu agar digitalisasi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sidrap.

“Jangan cuma bagus dalam rapat. Yang paling penting adalah pelaksanaannya di lapangan,” tegasnya.

Salah satu gagasan yang menarik perhatian adalah rencana memperluas penggunaan QRIS di pasar-pasar tradisional. Bahkan, Bupati secara khusus menyebut pedagang durian sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang nantinya diharapkan ikut memanfaatkan pembayaran digital.

Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Sidrap sedang bersiap menjadi tuan rumah Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan yang diperkirakan menghadirkan sekitar 64 ribu peserta dari berbagai daerah.

Jika ribuan tamu tersebut bertransaksi menggunakan QRIS saat membeli makanan, minuman, oleh-oleh, hingga kebutuhan lainnya, maka perputaran ekonomi digital di Sidrap berpotensi meningkat tajam.

Wakil Bupati Nurkanaah menilai momentum itu harus dimanfaatkan secara maksimal. Ia meminta seluruh OPD terus mendorong penggunaan transaksi nontunai, khususnya untuk pembayaran pajak dan retribusi daerah.

Sementara itu, Bank Indonesia memberikan apresiasi atas keberhasilan Sidrap meraih predikat TP2DD terbaik regional Sulawesi. Namun, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan Bayu Martanto mengingatkan bahwa tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi.

“Selamat Sidrap juara TP2DD 2025, tapi jangan terlena dan terus berbenah,” ujarnya.

Data yang dipaparkan Badan Pendapatan Daerah menunjukkan bahwa digitalisasi di Sidrap bukan sekadar slogan. Hingga Triwulan II Tahun 2026, seluruh penerimaan pajak daerah telah dilakukan secara nontunai dengan nilai mencapai Rp47,27 miliar.

Di sisi lain, retribusi daerah melalui QRIS juga terus mengalami peningkatan.

Menariknya, transformasi digital kini mulai menyentuh sektor yang selama ini identik dengan transaksi tunai, yakni rumah ibadah.

Pada kesempatan tersebut, Pemkab Sidrap bersama Bank Sulselbar menyerahkan kotak amal berbasis QRIS kepada Masjid Raya Rappang dan Masjid Darul Ridho Kompleks SKPD.

Dengan sistem itu, masyarakat dapat berdonasi cukup melalui telepon genggam tanpa harus membawa uang tunai.

Perubahan ini menunjukkan bahwa digitalisasi di Sidrap tidak lagi sekadar urusan teknologi atau perbankan. Ia mulai menjadi bagian dari budaya baru masyarakat.

Pertanyaannya kini, apakah Sidrap mampu mempertahankan gelar juara digitalisasi Sulawesi sekaligus mengubah kebiasaan transaksi masyarakat dari uang tunai ke sistem digital?

Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan, saat QRIS benar-benar hadir di setiap sudut aktivitas ekonomi warga Sidrap. (*)