Makassar, Katasulsel.com β Saat namanya dipanggil di panggung Rakorda Partai Gerindra Sulawesi Selatan, Selasa (4/8/2026), Andi Rosman berjalan ke depan bersama empat kepala daerah lainnya.
Tepuk tangan terdengar.
Kamera ponsel menyala.
Lalu Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Prof. Sufmi Dasco Ahmad, menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada Bupati Wajo itu.
Momen tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Namun dalam bahasa politik, pesannya jauh lebih panjang.
Andi Rosman kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Gerindra. Ia dikukuhkan bersama Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, Bupati Sinjai Ratnawati Arif, Bupati Kepulauan Selayar Natsir Ali, dan Bupati Enrekang Muhammad Yusuf Ritangnga dalam Rakorda Gerindra Sulsel di Makassar.
Bagi sebagian orang, perpindahan atau bergabungnya seorang kepala daerah ke partai tertentu adalah hal biasa.
Tetapi bagi para pelaku politik, langkah itu sering kali dibaca sebagai sinyal.
Sinyal arah.
Sinyal kedekatan.
Sinyal masa depan.
Karena itu, masuknya Andi Rosman ke Gerindra langsung menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan politik Sulawesi Selatan.
Apalagi Gerindra saat ini bukan sekadar partai besar. Partai berlambang Garuda itu berada di lingkar kekuasaan nasional setelah Prabowo Subianto memimpin pemerintahan dan Gerindra semakin menguat di berbagai daerah.
Seorang sumber yang mengikuti jalannya Rakorda menyebut pengukuhan tersebut bukan keputusan yang lahir mendadak.
“Benar. Saya saksinya,” ujar sumber internal Gerindra kepada Katasulsel.com, Selasa (4/8/2026).
Meski tidak menjelaskan lebih jauh proses politik di baliknya, sumber tersebut memastikan seluruh kepala daerah yang menerima SK telah melalui proses komunikasi dengan DPP.
Bagi Wajo, bergabungnya Andi Rosman ke Gerindra membuka babak baru dalam peta politik daerah.
Selama ini, Wajo dikenal sebagai salah satu wilayah dengan dinamika politik yang cair. Dukungan politik bisa berubah cepat mengikuti figur yang dianggap memiliki pengaruh paling kuat.
Karena itu, keputusan seorang bupati aktif selalu memiliki efek politik yang lebih luas dibanding sekadar perpindahan kartu anggota.
Ada jaringan.
Ada relasi politik.
Ada mesin elektoral.
Dan ada pengaruh yang ikut bergerak.
Yang menarik, pengukuhan Andi Rosman dilakukan bersamaan dengan empat bupati lainnya.
Artinya, Gerindra tidak sedang merekrut satu figur.
Mereka sedang membangun barisan.
Lima kepala daerah dalam satu hari.
Lima wilayah strategis dalam satu panggung.
Dari sudut pandang politik, ini adalah pesan bahwa Gerindra Sulawesi Selatan sedang memperkuat fondasi menuju kontestasi politik berikutnya.
Apakah langkah Andi Rosman murni soal penguatan pembangunan daerah melalui akses politik yang lebih luas ke pusat?
Ataukah bagian dari desain politik yang lebih panjang menuju 2029?
Belum ada jawaban resmi.
Namun satu fakta sulit dibantah.
Hari ini, nama Andi Rosman tidak hanya tercatat sebagai Bupati Wajo.
Ia juga resmi tercatat sebagai kader Partai Gerindra.
Dan dalam politik, setiap perpindahan rumah selalu memiliki cerita yang belum selesai ditulis.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
