Sidrap, katasulsel.com — Di banyak tempat, panen adalah akhir dari sebuah musim tanam.

Di Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, panen justru menjadi tanda dimulainya pekerjaan baru.

Jerami bahkan belum sempat benar-benar kering.

Namun mesin rotavator sudah meraung di tengah hamparan sawah.

Tanah yang baru saja menghasilkan gabah kembali dibalik.

Tidak ada waktu untuk berlama-lama merayakan panen.

Targetnya terlalu besar: tiga kali tanam, tiga kali panen dalam setahun.

Pemandangan itulah yang disaksikan langsung Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, usai mengikuti panen raya di Desa Botto, Jumat (7/8/2026).

Alih-alih pulang setelah panen, ia memilih menuju lokasi pengolahan lahan.

Di sana, petani sudah bergerak lebih cepat.

Sawah yang baru dipanen langsung disiapkan kembali untuk musim tanam berikutnya.

“Kita tidak mau ada lahan yang tidur terlalu lama. Setelah panen, langsung olah tanah. Ini yang terus kita dorong,” kata Syaharuddin.

Rahasia Sidrap Bukan Saat Menanam

Banyak orang mengira keberhasilan pertanian ditentukan saat menanam.

Padahal tidak selalu begitu.

Rahasia terbesar sering terjadi justru setelah panen.

Saat sebagian petani masih menunggu berminggu-minggu untuk mengolah lahan, petani di Botto memilih bergerak lebih cepat.

Begitu gabah masuk karung, rotavator langsung bekerja.

Cara inilah yang menjadi salah satu kunci program Intensifikasi Pertanaman (IP) 300.

Artinya, satu lahan bisa ditanami hingga tiga kali dalam setahun.

Semakin cepat lahan diolah, semakin cepat pula musim tanam berikutnya dimulai.

Sawah Tidak Dibiarkan Beristirahat

Di Desa Botto, sekitar 14 hektare sawah kini memasuki fase pengolahan tanah pascapanen.

Rotavator digunakan untuk mempercepat proses pembalikan tanah, menghancurkan sisa jerami, dan menyiapkan lahan agar siap ditanami kembali.

Teknologi ini membuat pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari kini bisa diselesaikan jauh lebih cepat.

Bagi petani, waktu adalah uang.

Semakin lama sawah kosong, semakin besar potensi kehilangan hasil produksi.

Karena itu, konsep “sawah istirahat” perlahan mulai ditinggalkan.

Yang didorong sekarang adalah “sawah produktif sepanjang tahun”.

Pitu Riase Sedang Menulis Cerita Baru

Wilayah Pitu Riase selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pertanian penting di Sidrap.

Namun beberapa tahun terakhir, daerah ini mulai menunjukkan perubahan yang lebih besar.

Jika sebelumnya petani hanya fokus pada satu atau dua musim tanam, kini targetnya berubah.

Tiga kali tanam.

Tiga kali panen.

Tiga kali peluang pendapatan.

Perubahan pola pikir itu menjadi bagian dari transformasi pertanian yang sedang berlangsung di Sidrap.

Bukan Sekadar Panen Raya

Kunjungan Syaharuddin Alrif kali ini bukan sekadar menghadiri panen raya.

Pesan yang ingin disampaikan lebih besar.

Panen bukan garis finis.

Panen adalah titik start berikutnya.

Karena itu Pemerintah Kabupaten Sidrap terus mendorong percepatan pengolahan lahan, penyediaan sarana produksi, pendampingan penyuluh pertanian, hingga dukungan pembiayaan bagi petani.

Tujuannya satu.

Agar sawah-sawah Sidrap terus berproduksi tanpa jeda panjang.

Dari Botto untuk Sidrap

Apa yang terjadi di Desa Botto kini mulai dilirik sebagai contoh bagi wilayah lain.

Ketika lahan baru dipanen langsung kembali diolah, produktivitas meningkat.

Ketika produktivitas meningkat, pendapatan petani ikut naik.

Dan ketika petani semakin sejahtera, ekonomi desa bergerak lebih cepat.

Di tengah tantangan pangan nasional, Desa Botto memberikan pelajaran sederhana.

Bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas sawah.

Tetapi oleh kecepatan bergerak setelah panen.

Di Botto, panen belum selesai.

Karena musim tanam berikutnya sudah dimulai. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini