Aisyah Maharani Ismail
Sidrap, katasulsel.com — Di Desa Aka-Akae, Kecamatan Watang Sidenreng, para ibu biasanya lebih akrab membicarakan musim tanam, harga gabah, atau jadwal panen.
Namun Selasa pagi, 4 Agustus 2026, topik pembicaraan berubah.
Yang dibahas bukan lagi sawah. Bukan pula pupuk.
Melainkan tinggi badan balita.
Berat badan.
Dan satu kata yang kini menjadi perhatian nasional: stunting.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin (Unhas) hadir membawa program bernama CERIA—singkatan dari Cegah Stunting, Edukasi Gizi, Rangsang Perkembangan, Identifikasi Dini, Anak Sehat.
Program ini digagas oleh mahasiswa Pendidikan Dokter Umum Unhas, Aisyah Maharani Ismail Hafid, dan dilaksanakan di Posyandu Desa Aka-Akae.
Bukan sekadar kegiatan timbang badan seperti Posyandu pada umumnya.
Mahasiswa Unhas mencoba melangkah lebih jauh.
Mereka ingin memastikan anak-anak Sidrap tumbuh sehat, bukan hanya hari ini, tetapi juga 10 hingga 20 tahun mendatang.
Karena masa depan sebuah daerah sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh luas sawahnya.
Tetapi juga oleh kualitas generasi yang akan mengelolanya.
Data menjadi alasan kuat.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat angka stunting nasional masih berada di angka 21,5 persen.
Artinya, sekitar satu dari lima balita Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.
Di Sidrap, tantangannya juga belum selesai.
Berdasarkan data survei kesehatan sebelumnya, angka stunting masih berada di kisaran 26 persen.
Bahkan di Desa Aka-Akae, hasil pemantauan Posyandu menunjukkan masih ditemukan balita dengan kategori pendek hingga sangat pendek berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur.
Inilah yang membuat mahasiswa KKN-PK Unhas memilih turun langsung ke lapangan.
Mereka tidak menunggu laporan datang.
Mereka mendatangi sumbernya.
Anak-anak.
Kegiatan berlangsung sejak pagi.
Para ibu datang membawa balitanya.
Ada yang digendong.
Ada yang digiring sambil berlari kecil.
Ada pula yang masih tertidur di pelukan ibunya.
Satu per satu diperiksa.
Mulai dari berat badan.
Tinggi badan.
Hingga perkembangan motorik dan kemampuan sesuai usia.
Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada pengukuran fisik.
Mahasiswa juga melakukan skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).
Metode yang sebenarnya sangat penting, namun belum rutin dilakukan di banyak Posyandu.
Padahal seorang anak bisa saja memiliki berat badan normal tetapi mengalami keterlambatan perkembangan yang tidak terdeteksi.
Di sinilah nilai lebih program CERIA.
Bukan hanya melihat apakah anak tumbuh.
Tetapi juga memastikan mereka berkembang.
Setelah pemeriksaan selesai, para ibu tidak langsung pulang.
Mereka mendapat penjelasan satu per satu mengenai hasil pemeriksaan anaknya.
Yang ditemukan berisiko gizi kurang diberikan edukasi khusus.
Yang menunjukkan tanda-tanda keterlambatan perkembangan diarahkan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Semua dilakukan dengan pendekatan personal.
Tanpa membuat orang tua merasa dihakimi.
Tanpa membuat mereka takut.
Justru sebaliknya.
Mereka diajak memahami kondisi anak sejak dini.
Menurut Aisyah Maharani, kegiatan ini sengaja dirancang agar tidak berhenti setelah mahasiswa KKN meninggalkan desa.
Karena itu, kader Posyandu juga diberikan orientasi mengenai cara melakukan skrining status gizi dan penggunaan formulir KPSP.
Tujuannya sederhana.
Agar sistem deteksi dini tetap berjalan meski masa pengabdian mahasiswa berakhir.
Langkah ini penting.
Sebab pencegahan stunting tidak bisa dilakukan hanya dalam satu hari penyuluhan.
Ia membutuhkan pemantauan yang terus menerus.
Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Produksi padi tinggi.
Panen terus berlangsung.
Bahkan baru-baru ini daerah ini mencatat produktivitas padi hingga 11,2 ton per hektare melalui program pertanian modern PM-AAS.
Tetapi keberhasilan pertanian tidak akan lengkap jika generasi mudanya tidak tumbuh sehat.
Karena itu, kegiatan CERIA di Aka-Akae membawa pesan yang lebih besar.
Bahwa membangun Sidrap tidak hanya soal meningkatkan hasil panen.
Tetapi juga memastikan anak-anak yang lahir di desa-desa pertanian tumbuh cerdas, sehat, dan siap menjadi generasi penerus.
Sawah bisa menghasilkan beras.
Tetapi anak-anak sehatlah yang akan menentukan masa depan Sidrap. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
