Enrekang, Katasulsel.com – Festival Durian yang digelar Pemerintah Kabupaten Enrekang di Kebun Raya Massenrempulu menuai sorotan. Sebuah video keluhan pengunjung yang merasa kecewa usai datang ke acara tersebut viral di media sosial dan memicu perbincangan publik.

Bukan hanya warga Enrekang, pengunjung dari berbagai daerah ikut berdatangan setelah mendengar promosi festival dengan konsep “makan durian puas” hanya dengan tiket Rp10 ribu. Pesona durian Enrekang menjadi magnet kuat bagi para pencinta buah khas tersebut.

Namun, antusiasme yang dibawa pengunjung dari rumah disebut tidak berbanding lurus dengan kondisi yang ditemui di lokasi. Sejumlah pengunjung mengaku kecewa karena durian yang menjadi tujuan utama kedatangan mereka sulit dinikmati.

Dalam video yang beredar, pengunjung asal Kota Parepare menyampaikan kekecewaannya setelah datang jauh-jauh berharap bisa menikmati durian sesuai promosi yang diterima.

Bagi pengunjung, persoalannya bukan semata soal harga tiket yang murah, melainkan ekspektasi yang terbentuk dari tagline acara. Ketika konsep yang ditawarkan adalah makan durian hingga puas, masyarakat tentu berharap ketersediaan durian mampu memenuhi jumlah pengunjung.

“Kalau stok sedikit, jangan gunakan tagline makan sampai puas. Tiket terus disebarkan, tapi durian yang mau dimakan tidak ada,” menjadi keluhan yang disampaikan pengunjung.

Viralnya video tersebut membuat citra Enrekang ikut menjadi perhatian. Padahal, Enrekang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil durian yang memiliki daya tarik wisata kuliner.

Sejumlah pihak menilai, event seperti Festival Durian seharusnya menjadi momen memperkenalkan keunggulan daerah dan meninggalkan kesan positif bagi wisatawan, bukan sebaliknya.

Pengunjung yang datang dari luar daerah kini membawa pulang cerita berbeda. Sebuah pengalaman di lokasi acara bisa menjadi gambaran bagi orang lain tentang daerah yang mereka kunjungi.

Festival Durian Enrekang pun menjadi catatan penting, bahwa promosi besar perlu dibarengi kesiapan agar antusiasme masyarakat tidak berubah menjadi kekecewaan.