Sidrap, katasulsel.com — Dulu, jika berbicara tentang pembangunan di Sidrap, perhatian publik lebih sering tertuju ke Pangkajene, Maritengngae, atau kawasan perkotaan lainnya.
Tellu Limpoe berada agak jauh dari sorotan.
Tenang.
Sepi.
Lebih dikenal sebagai wilayah pertanian.
Namun beberapa bulan terakhir, pelan-pelan keadaan berubah.
Dan hari ini, Sabtu 8 Agustus 2026, perubahan itu seolah dipamerkan kepada publik.
Tidak heran jika Syaharuddin Alrif, bupati, memilih Tellu Limpoe sebagai salah satu panggung perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Sebab kecamatan ini sedang mengalami sesuatu yang menarik.
Sebenarnya.
Bukan ledakan pembangunan.
Melainkan transformasi.
Perubahan wajah.
Perubahan cara pandang di bawah kepemimpinan Camat Ridwan Bachtiar.
Keunikan pertama Tellu Limpoe adalah lokasinya.
Ia berada di jalur yang menghubungkan beberapa kawasan penting di Sidrap.
Masyarakat mengenalnya sebagai wilayah yang kuat dengan kultur pertanian, perikanan dan kehidupan pedesaan yang masih terasa kental.
Tetapi kini, yang mulai dibangun bukan hanya sawah, produksi pertanian atau perikanan saja.
Melainkan identitas kawasan.
Itulah mengapa sesaat lagi akan diresmikan Ikon Kecamatan Tellu Limpoe.
Banyak daerah membangun jalan.
Banyak daerah membangun gedung.
Tetapi tidak semua daerah membangun simbol.
Padahal simbol penting.
Karena simbol membuat sebuah wilayah mudah dikenali.
Mudah diingat.
Dan memiliki kebanggaan kolektif.
Keunikan kedua adalah munculnya konsep lorong percontohan.
Agenda Bupati yang secara khusus mengunjungi lorong percontohan menunjukkan satu hal.
Pembangunan tidak lagi hanya berpusat pada proyek besar.
Tetapi mulai masuk ke ruang-ruang kecil tempat masyarakat hidup sehari-hari.
Lorong yang tertata rapi mungkin terlihat sederhana.
Namun dari situlah wajah sebuah daerah sebenarnya terlihat.
Orang tidak menilai daerah dari ruang rapatnya.
Orang menilai daerah dari lingkungan tempat warganya tinggal.
Keunikan ketiga adalah keterlibatan masyarakat.
Lihat saja peserta karnaval sore ini
Mulai dari kelompok bermain.
TK.
SD.
SMP.
SMA.
Instansi.
Hingga masyarakat umum.
Semuanya ikut.
Ini menunjukkan bahwa perayaan tidak dibuat oleh pemerintah semata.
Tetapi tumbuh dari partisipasi warga.
Dan di banyak daerah, partisipasi seperti ini justru menjadi indikator kemajuan sosial yang sering luput diperhatikan.
Ada satu hal yang menarik dari gaya kepemimpinan Syaharuddin Alrif.
Ia tampaknya ingin menjadikan setiap kecamatan memiliki panggungnya sendiri.
Tidak semua kegiatan dipusatkan di ibu kota kabupaten.
Tidak semua perhatian tertuju ke pusat pemerintahan.
Kecamatan diberi ruang untuk tampil.
Diberi ruang untuk menunjukkan potensinya.
Kali ini, giliran Tellu Limpoe.
Kemarin mungkin kecamatan lain.
Besok lusa mungkin kecamatan yang berbeda lagi.
Karena itu, kunjungan Bupati besok sesungguhnya bukan sekadar agenda seremonial.
Ada pesan yang ingin dikirim.
Bahwa pembangunan Sidrap tidak hanya diukur dari berapa kilometer jalan yang dibangun.
Tetapi juga dari seberapa percaya diri setiap kecamatan menampilkan dirinya.
Dan saat sebuah kecamatan mulai membangun ikon, menata lorong, menghidupkan ruang publik, serta melibatkan masyarakat dalam perayaan besar, biasanya ada satu tanda yang sedang muncul.
Daerah itu sedang bergerak maju.
Pelan.
Tetapi pasti.
Dan besok, Tellu Limpoe akan menunjukkan kepada Sidrap bahwa ia bukan lagi sekadar wilayah yang dilewati.
Ia sedang berubah menjadi wilayah yang layak dikunjungi. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
