Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 479 Lihat semua

Jakarta, Katasulsel.comMusim 2026 baru saja dimulai. Namun satu nama dari Indonesia sudah lebih dulu mencuri perhatian paddock Moto3: Veda Ega Pratama.

Debutnya di seri pembuka di Chang International Circuit, Thailand, menjadi sinyal bahwa rookie Indonesia itu tidak sekadar numpang lewat di kejuaraan dunia balap motor. Finis di posisi kelima pada balapan perdana langsung menempatkannya sebagai salah satu pendatang baru yang patut diperhitungkan musim ini.

Kini perhatian tertuju ke seri berikutnya di Autódromo Internacional de Goiânia, Brasil. Banyak pengamat menilai peluang Veda untuk kembali tampil kompetitif terbuka lebar.

Rookie yang Langsung “Panas”

Tidak semua pembalap bisa langsung kompetitif pada debutnya di Moto3. Namun Veda menunjukkan mental berbeda.

Pada balapan di Thailand awal Maret lalu, pembalap muda Indonesia itu sempat merangsek ke barisan depan dan bahkan bersaing dalam perebutan podium sebelum akhirnya finis di posisi kelima.

Hasil tersebut membuat namanya langsung diperbincangkan di paddock Moto3. Bahkan beberapa media balap menyebut performanya sebagai debut sensasional bagi seorang rookie.

Penampilan tersebut juga menunjukkan bahwa Veda tidak mengalami “demam panggung” menghadapi pembalap yang lebih berpengalaman di kelas Moto3.

Modal Besar Menuju Brasil

Seri kedua Moto3 musim 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–22 Maret di Brasil. Balapan ini menjadi kesempatan bagi Veda untuk menjaga momentum positif dari Thailand.

Modal yang ia bawa tidak kecil.

Selain hasil finis lima besar, Veda juga telah menunjukkan progres sejak sesi latihan hingga kualifikasi pada seri pembuka. Konsistensi itu menjadi indikasi bahwa performanya bukan

sekadar kejutan sesaat.

Di Brasil, pembalap yang membela Honda Team Asia itu juga diprediksi memiliki peluang lebih baik jika mampu memaksimalkan strategi balapan serta menjaga ritme sejak awal lap.

Target Realistis: Konsisten di Zona Poin

Meski banyak yang mulai memasang ekspektasi tinggi, target realistis bagi Veda di awal musim tetap menjaga konsistensi di zona poin.

Moto3 dikenal sebagai kelas paling ketat di kejuaraan dunia balap motor. Selisih waktu antar pembalap seringkali sangat tipis dan posisi bisa berubah dalam satu tikungan.

Karena itu, pengalaman dari seri Thailand menjadi pelajaran penting bagi Veda, terutama dalam manajemen ban, strategi slipstream, hingga momentum menyalip.

Ia sendiri mengakui bahwa balapan perdana memberikan banyak pembelajaran yang bisa digunakan untuk seri-seri berikutnya.

Harapan Baru Balap Motor Indonesia

Kemunculan Veda Ega juga kembali memantik optimisme publik Indonesia di ajang balap dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus mendorong pembalap muda untuk tampil di level internasional. Kehadiran Veda di Moto3 2026 menjadi salah satu tonggak penting dalam proses tersebut.

Jika mampu menjaga konsistensi performa sepanjang musim, bukan tidak mungkin pembalap muda asal Gunungkidul itu akan menjadi salah satu rookie paling bersinar tahun ini.

Brasil akan menjadi ujian berikutnya.

Apakah momentum dari Buriram bisa berlanjut?

Jawabannya akan terlihat di lintasan. Namun satu hal sudah jelas: Veda Ega Pratama bukan lagi sekadar pendatang baru—ia mulai menjelma sebagai ancaman nyata di Moto3. (*?)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.