Jakarta, Katasulsel.com – Di balik panggung pentas balet yang semestinya menjadi momen kebanggaan keluarga, Ruben Onsu mengungkap kronologi panjang yang kini menjadi sorotan publik. Peristiwa yang awalnya hanya sebatas kehadiran seorang ayah untuk menyaksikan putrinya tampil, berkembang menjadi rangkaian situasi yang melibatkan pembatasan akses, miskomunikasi, hingga momen emosional di lokasi acara.

Ruben menegaskan sejak awal bahwa tujuannya sederhana.

“Saya ingin ketemu Thania untuk kasih bunga dan foto bareng,” ujarnya.

Namun situasi di lokasi disebut tidak berjalan sesuai harapan. Ia mengaku pergerakannya dibatasi oleh aturan acara yang cukup ketat selama pertunjukan berlangsung.

“Saya tidak bisa keluar ruangan langsung karena ditahan security. Peraturannya tidak boleh ada keluar masuk ketika pertunjukan berlangsung,” katanya.

Kondisi tersebut membuat pertemuan dengan anaknya harus tertunda di tengah jalannya acara.

Situasi kemudian berkembang di belakang panggung ketika komunikasi antara tim Ruben dan pihak pendamping anak tidak berjalan selaras. Miskomunikasi disebut memicu ketegangan di lapangan.

“Tim saya tektokan sama suster, minta ditungguin dulu, tapi mungkin salah paham sampai ada voice note dengan nada marah,” ungkapnya.

Dari titik itu, suasana di lokasi disebut mulai berubah meski acara tetap berlangsung di atas panggung.

Setelah menunggu, Ruben akhirnya dapat bertemu Thalia. Namun momen tersebut berlangsung singkat dan berada dalam situasi yang tetap terkontrol di lokasi acara.

“Akhirnya saya ketemu Thania, foto-foto bareng,” ujarnya.

Interaksi itu tidak berlangsung lama sebelum kembali bergeser ke akhir acara.

Momen yang kemudian paling banyak disorot publik terjadi saat proses penjemputan setelah pertunjukan selesai. Ruben menggambarkan situasi tersebut berlangsung dalam kondisi emosional di tengah banyak pihak di lokasi.

“Waktu saya gendong Thania, bundanya tetap minta Thania ikut sama bundanya, akhirnya Nia turun dari gendongan saya,” ungkapnya.

Potongan momen itu kemudian menyebar luas dan menjadi bahan diskusi di ruang digital.

Kronologi tersebut memicu beragam tanggapan dari warganet. Kolom komentar unggahan Ruben dipenuhi respons dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Sebagian warganet memberikan dukungan dan empati terhadap situasi yang terjadi.

“Koko, badai akan segera berlalu. Di depan nanti koko lah yang paling bahagia bersama anak-anak. Sabar ya koko”

Sebagian lainnya mengingatkan pentingnya ketenangan di tengah situasi yang sudah menjadi perhatian publik.

“Curahkan semua kepada Sang Pencipta, Ko”

Di tengah derasnya komentar publik, ada satu pernyataan Ruben yang justru menjadi sorotan paling besar. Komentar itu ia tulis langsung di unggahannya sendiri dan telah menembus lebih dari 112 ribu likes.

“Maafkan teman-teman saya juga tidak mau bercerita di sini, minimal ini menjadi tulisan untuk anak saya dari perjuangan saya juga ada untuk ada di setiap kegiatan mereka, walau ombak yang kencang sekali..”

Kalimat itu seakan menggeser cara publik membaca peristiwa ini—bukan sekadar soal kejadian di panggung balet, tetapi juga tentang cara seorang ayah menyimpan versinya sendiri di ruang publik, di tengah riuh tafsir yang terus bergerak tanpa henti.(*)