Penulis:
Azzhura Fibry Ananta Rahman

Sidrap, katasulsel.com — Inovasi tidak selalu lahir dari teknologi mahal. Di Desa Cipotakari, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), inovasi itu justru datang dari pekarangan rumah warga.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan sistem penyiraman tanaman menggunakan sprinkler, teknologi sederhana yang mampu mengubah cara warga merawat tanaman pekarangan.

Jika sebelumnya penyiraman dilakukan secara manual menggunakan ember atau selang dengan waktu yang cukup lama, kini air dapat menyebar merata layaknya hujan kecil yang turun di halaman rumah.

Program tersebut menjadi salah satu inovasi teknologi tepat guna yang diperkenalkan mahasiswa KKN Unhas di Desa Cipotakari sebagai upaya mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan air.

Di tengah cuaca yang semakin tidak menentu dan kebutuhan air yang terus meningkat saat musim kemarau, kehadiran sprinkler dinilai menjadi solusi sederhana namun efektif bagi masyarakat desa.

Menariknya, teknologi ini tidak memerlukan biaya besar maupun kemampuan teknis yang rumit. Warga cukup memahami cara pengoperasian dasar dan perawatan ringan agar alat dapat digunakan dalam jangka panjang.

Koordinator kegiatan, Andi Zulfikran Alza, mahasiswa Program Studi Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Unhas, menjelaskan bahwa inovasi tersebut sengaja dipilih karena mudah diterapkan oleh masyarakat pedesaan.

“Melalui penerapan sprinkler ini, kami ingin menghadirkan solusi yang praktis dan mudah diterapkan oleh masyarakat dalam merawat tanaman pekarangan. Harapannya teknologi sederhana ini dapat terus dimanfaatkan setelah program KKN berakhir,” ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa tidak hanya memasang perangkat sprinkler, tetapi juga memberikan pelatihan dan demonstrasi langsung kepada warga. Masyarakat diajak memahami cara kerja sistem, teknik pemasangan, hingga perawatan agar alat tetap berfungsi optimal.

Antusiasme warga terlihat tinggi. Banyak masyarakat yang menilai sistem tersebut dapat menghemat tenaga sekaligus membantu menjaga tanaman tetap produktif, terutama saat pasokan air terbatas.

Bagi Kabupaten Sidrap yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, inovasi kecil seperti ini memiliki arti besar. Ketahanan pangan tidak hanya dibangun dari hamparan sawah ribuan hektare, tetapi juga dari pekarangan rumah yang produktif.

Karena itu, program yang dibawa mahasiswa KKN Unhas ini dinilai sejalan dengan semangat modernisasi pertanian yang kini terus berkembang di Sidrap.

Jika sebelumnya teknologi modern banyak diterapkan di lahan pertanian skala besar, kini sentuhan inovasi mulai masuk ke halaman-halaman rumah warga.

Pekarangan yang dulunya hanya menjadi ruang kosong perlahan berubah menjadi sumber sayuran, tanaman obat keluarga, hingga kebutuhan pangan rumah tangga lainnya.

Program sprinkler di Desa Cipotakari menjadi bukti bahwa kemajuan desa tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang, perubahan itu justru lahir dari tetesan air yang jatuh lebih merata.

Dan di Sidrap, tetesan-tetesan kecil itu sedang menumbuhkan harapan baru bagi ketahanan pangan keluarga. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini