Jakarta, Katasulsel.com — Penghargaan memang diterima di Jakarta.

Tetapi gema apresiasinya terdengar sampai Maros, Makassar, Pinrang, Sidrap, Wajo, Enrekang, Bone, Bulukumba, hingga pelosok Sulawesi Selatan.

Ketika Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menerima detiktimur Awards 2026 untuk kategori Pembangunan Infrastruktur Terpadu dan Konektivitas Wilayah, yang dinilai bukan sekadar sebuah trofi.

Melainkan jalan-jalan yang kini mulai tersambung.

Daerah-daerah yang mulai saling mendekat.

Dan biaya ekonomi yang perlahan mulai ditekan.

Penghargaan itu diberikan atas keberanian Pemprov Sulsel menjalankan Program Multi Years Project (MYP), proyek raksasa senilai Rp3,7 triliun yang menyasar pembangunan jalan, irigasi, dan fasilitas kesehatan secara serentak di berbagai daerah.

Yang menarik, apresiasi justru datang dari para kepala daerah.

Mereka merasakan langsung dampaknya.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyebut program tersebut sebagai terobosan besar yang memperkuat konektivitas Sulawesi Selatan.

Menurutnya, jalan yang baik bukan sekadar urusan aspal dan beton.

Tetapi urusan ekonomi.

Ketika akses antarwilayah semakin lancar, distribusi barang menjadi lebih murah, perjalanan lebih cepat, dan aktivitas ekonomi tumbuh lebih sehat.

“Ini proyek yang spektakuler. Konektivitas antarwilayah sangat dibutuhkan untuk menekan biaya ekonomi,” ujar Munafri.

Pernyataan itu menggambarkan satu hal.

Makassar sebagai pusat ekonomi Sulsel tidak bisa tumbuh sendiri.

Ia membutuhkan daerah penyangga.

Membutuhkan jalur distribusi yang lancar dari Sidrap, Wajo, Pinrang, Maros, Bone, hingga Luwu Raya.

Karena itulah jalan menjadi urat nadi pembangunan.

Bupati Maros Chaidir Syam bahkan menyebut Andi Sudirman sebagai “bapak pembangunan Sulawesi Selatan”.

Pernyataan yang cukup berani.

Tetapi ia punya alasan.

Maros menjadi salah satu daerah yang merasakan dampak pembangunan konektivitas tersebut.

Akses yang semakin baik ikut mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Hasilnya terlihat pada pertumbuhan ekonomi Maros yang mencapai 9,53 persen pada semester pertama 2026.

Angka yang tidak bisa dianggap biasa.

Di tengah tantangan ekonomi nasional, capaian itu menunjukkan bahwa infrastruktur masih menjadi salah satu mesin penggerak pertumbuhan paling efektif.

Yang membuat program ini berbeda adalah skalanya.

Bukan satu ruas.

Bukan dua kabupaten.

Tetapi hampir seluruh Sulawesi Selatan.

Melalui skema kontrak tahun jamak 2025–2027, Pemprov Sulsel mengalokasikan sekitar Rp2,5 triliun khusus untuk membangun lebih dari 1.400 kilometer jalan pada hampir 100 ruas yang tersebar di 24 kabupaten dan kota.

Artinya, proyek ini bukan hanya milik Makassar.

Bukan hanya milik Maros.

Tetapi milik seluruh Sulawesi Selatan.

Dari jalan yang menghubungkan Pinrang-Sidrap.

Koridor pertanian Wajo dan Soppeng.

Akses menuju kawasan wisata Toraja.

Hingga jalur distribusi hasil pertanian dan perikanan di berbagai daerah.

Yang sering terlupakan, program ini juga tidak berhenti pada jalan.

Pemprov Sulsel memasukkan rehabilitasi jaringan irigasi untuk mendukung sektor pertanian serta pembangunan rumah sakit regional guna memperluas akses pelayanan kesehatan.

Karena pembangunan sejatinya bukan hanya soal membuat orang lebih cepat sampai.

Tetapi juga membuat petani lebih mudah mengairi sawahnya.

Membuat pasien lebih mudah mendapatkan layanan kesehatan.

Dan membuat daerah-daerah tumbuh secara lebih merata.

Maka ketika penghargaan itu diberikan di Grand Ballroom The Trans Hotel Jakarta, yang diapresiasi sesungguhnya bukan hanya seorang gubernur.

Melainkan sebuah gagasan besar.

Bahwa membangun Sulawesi Selatan tidak cukup dari ibu kota provinsi.

Tetapi harus dimulai dari menghubungkan seluruh daerahnya.

Satu jalan.

Satu jembatan.

Satu konektivitas.

Menuju Sulsel yang bergerak bersama. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini