Jakarta, Katasulsel.com — Di usianya yang baru 15 tahun, Puspita Sari Suardi datang ke audisi Dangdut Academy 8 membawa harapan sederhana: menunjukkan kemampuannya bernyanyi di hadapan para juri.
Penampilannya memang belum sempurna. Juri mencatat sejumlah kekurangan, mulai dari kontrol napas, penempatan frase lagu, hingga energi dan ekspresi yang dinilai masih perlu diasah. Namun di balik berbagai catatan tersebut, para juri melihat sesuatu yang tidak dimiliki semua peserta: karakter suara yang khas dan potensi yang masih bisa berkembang.
Itulah yang membuat remaja asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, itu tetap mendapatkan kesempatan melangkah ke tahap berikutnya.
Saat tampil membawakan lagu “Fatamorgana”, Puspita memperlihatkan warna vokal yang lembut dan nyaman didengar. Penampilannya bahkan sempat memancing komentar ringan dari para juri yang menilai pembawaannya masih sangat polos dan menggemaskan.
Meski demikian, penilaian terhadap kemampuan vokalnya tetap dilakukan secara serius. Salah satu juri menilai suara Puspita memiliki warna yang enak didengar, tetapi beberapa bagian lagu masih terdengar terlambat mengikuti irama musik.
“Suara kamu enak. Lagunya juga enak didengar. Cuma ada beberapa bagian yang terasa tidak pas dengan beat musiknya,” ujar juri saat memberikan masukan.
Catatan lain datang dari aspek penguasaan lagu. Puspita dinilai masih perlu belajar mengatur napas dan memahami penempatan jeda dalam lagu agar emosi yang ingin disampaikan dapat lebih terasa.
“Kontrol nadanya sudah cukup baik, tapi tanda koma dan pengaturan napasnya masih perlu diperhatikan,” kata juri lainnya.
Momen paling menentukan terjadi ketika para juri mulai menyampaikan keputusan.
Alih-alih hanya menyoroti kekurangannya, mereka justru melihat peluang perkembangan yang dimiliki gadis asal Sidrap tersebut.
“Aku masih pengen ketemu kamu, karena menurutku kamu punya vokal yang unik,” ujar salah seorang juri sebelum memberikan kesempatan kepada Puspita untuk melanjutkan perjalanan di kompetisi tersebut.
Komentar itu menjadi penegasan bahwa dalam ajang pencarian bakat, kemampuan teknis bukan satu-satunya penilaian. Karakter suara, keunikan, dan potensi berkembang sering kali menjadi faktor yang sama pentingnya.
Bagi Puspita Sari Suardi, langkah ini mungkin baru awal. Masih banyak hal yang harus dibenahi sebagaimana catatan para juri. Namun dari panggung audisi itu, remaja 15 tahun asal Sidrap tersebut telah menunjukkan bahwa kesempatan besar sering kali datang bukan kepada mereka yang sudah sempurna, melainkan kepada mereka yang memiliki potensi untuk terus bertumbuh.(*)
