Sidrap, katasulsel.com — Siang itu seharusnya biasa saja.

Matahari sedang tegak di atas BTN Flamboyan, Kelurahan Lalebata, Kecamatan Panca Rijang, Sidrap.

Aktivitas warga berjalan seperti hari-hari sebelumnya.

Lalu kabar itu datang.

Dua remaja ditemukan tergeletak lemah di sebuah rumah tempat mereka bekerja.

Kondisinya tidak biasa.

Keduanya disebut mengalami muntah darah.

Tubuh mereka kehilangan tenaga.

Wajah-wajah panik mulai berdatangan.

Tetangga keluar rumah. Keluarga berhamburan. Suasana mendadak berubah tegang.

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi.

Yang terlihat hanya dua anak muda yang sedang berjuang melawan kondisi yang terus memburuk.

Mereka kemudian dilarikan ke RS Arifin Nu’mang.

Harapan masih ada.

Setidaknya saat kendaraan yang membawa mereka melaju menuju rumah sakit.

Namun harapan itu tak bertahan lama.

Selasa, 16 Juni 2026.

Keduanya dinyatakan meninggal dunia.

Dan sejak saat itu, Sidrap mulai dipenuhi pertanyaan.

Apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut?

Mengapa dua remaja itu bisa mengalami kondisi yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan?

Apa yang mereka konsumsi?

Apa yang mereka alami sebelum akhirnya tumbang?

Belum ada jawaban pasti.

Tetapi ruang publik sudah lebih dulu ramai.

Berbagai dugaan beredar dari mulut ke mulut.

Ada yang mengaitkan dengan obat-obatan.

Ada yang menyebut minuman beralkohol.

Ada pula yang menyampaikan versi-versi lain yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Masalahnya, hingga hari ini, tidak satu pun dari dugaan itu yang memiliki kepastian resmi.

Polisi belum mengumumkan penyebab kematian kedua korban.

Hasil penyelidikan juga belum dipublikasikan.

Kasat Reskrim Polres Sidrap, AKP Welfrick Ambarita, saat dikonfirmasi Rabu, 17 Juni 2026, menyampaikan bahwa penanganan perkara tersebut sementara dilakukan oleh Polsek Panca Rijang.

“Sementara ditangani Polsek Panca Rijang,” ujarnya singkat.

Kalimat itu pendek.

Namun maknanya panjang.

Artinya proses pengumpulan fakta masih berjalan.

Penyidik masih bergerak.

Keterangan saksi sedang dihimpun.

Jejak-jejak peristiwa sedang disusun.

Setiap kemungkinan masih ditelusuri.

Karena dalam kasus seperti ini, kesimpulan yang datang terlalu cepat sering kali justru menjauhkan dari kebenaran.

Yang pasti, dua nyawa muda telah hilang.

Dua keluarga sedang berduka.

Dan masyarakat Sidrap kini menunggu satu hal yang sama.

Jawaban.

Apa yang sebenarnya terjadi di balik tragedi yang membuat siang di BTN Flamboyan berubah menjadi hari penuh darah dan duka itu?

Jawaban tersebut kini berada di tangan penyelidik.

Sampai hasil resmi diumumkan, semua dugaan tetaplah dugaan.

Menanti fakta-fakta sebenarnya. (*)