Penulis:
Anisa Shofiani Puteri

Luwu Timur, katasulsel.com – Persoalan air bersih masih menjadi tantangan yang dihadapi sebagian masyarakat pedesaan. Di Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, air sumur dan tampungan air hujan milik warga terkadang masih berwarna keruh, menguning, bahkan berbau sehingga kurang nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Kondisi tersebut mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan solusi sederhana namun aplikatif bagi masyarakat.

Melalui program bertajuk “Inovasi Sistem Filtrasi Air Gravitasi Menggunakan Pemanfaatan Barang Bekas dan Agregat Alam”, mahasiswa KKN Unhas menggelar sosialisasi sekaligus praktik pembuatan alat penyaring air rumah tangga di Desa Pasi-Pasi, Sabtu (1/8/2026).

Menariknya, alat penyaring tersebut tidak menggunakan teknologi mahal.

Mahasiswa memanfaatkan galon bekas, ember bekas, pasir, batu kerikil, batu kali, arang aktif, ijuk, hingga spons yang mudah ditemukan masyarakat.

Penanggung jawab kegiatan, Anisa Shofiani Puteri, mahasiswi Teknik Sipil Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa teknologi yang diterapkan merupakan sistem saringan pasir lambat (slow sand filter) yang dirancang agar mudah dibuat dan digunakan oleh warga desa.

Menurutnya, kebutuhan air bersih merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan keluarga.

“Kami ingin menghadirkan solusi yang murah, mudah dibuat, dan bisa diterapkan sendiri oleh masyarakat. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan, warga dapat mengolah air yang keruh menjadi lebih jernih dan layak digunakan,” ujar Anisa.

Tidak hanya menjelaskan teori, mahasiswa KKN Unhas juga mengajak warga merakit alat penyaring secara langsung.

Dalam demonstrasi tersebut, warga diperlihatkan cara menyusun lapisan penyaring mulai dari spons, batu kali, ijuk, arang aktif, kain tipis, pasir, hingga kerikil pada bagian atas.

Setiap material memiliki fungsi berbeda.

Pasir berfungsi sebagai media penyaring utama, arang aktif membantu mengurangi bau dan warna, sementara ijuk menjadi lapisan pemisah yang menjaga material penyaring tetap berada pada posisinya.

Anisa menjelaskan penggunaan ijuk sangat efektif karena memiliki serat yang rapat, tahan air, serta tidak mudah lapuk meski digunakan dalam jangka waktu lama.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat Desa Pasi-Pasi.

Sejumlah ibu rumah tangga tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan alat filtrasi. Mereka bahkan aktif mengajukan pertanyaan terkait cara perawatan alat, waktu penggantian material penyaring, hingga metode pencucian pasir agar alat tetap berfungsi optimal.

Bagi warga, inovasi tersebut menjadi solusi yang realistis karena tidak membutuhkan biaya besar seperti pemasangan sistem pengolahan air modern.

Selain membantu memperoleh air yang lebih jernih, alat filtrasi sederhana ini juga dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap air kemasan atau sumber air alternatif yang membutuhkan biaya tambahan.

Program ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan yang dapat langsung dirasakan manfaatnya.

Di tengah berbagai tantangan akses air bersih di pedesaan, inovasi sederhana dari mahasiswa KKN Unhas menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus mahal dan rumit.

Terkadang, galon bekas, pasir, batu, dan sedikit kreativitas sudah cukup untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan: air bersih. (*)