Andi Meutia Inayah Salsabila
LUWU TIMUR, KATASULSEL.COM – Persoalan sampah dan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan memasang imbauan atau membagikan brosur. Kesadaran menjaga lingkungan harus ditanamkan sejak usia dini, saat karakter dan kebiasaan anak mulai terbentuk.
Pemikiran itulah yang melatarbelakangi lahirnya program GERAK BUMI (Gerakan Penguatan Kesadaran dan Aksi Peduli Bumi) yang dilaksanakan Mahasiswa KKN-T Inovasi Desa Universitas Hasanuddin (Unhas) di SDN 238 Mallaulu, Desa Mallaulu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Jumat (31/7/2026).
Berbeda dengan penyuluhan lingkungan pada umumnya, program ini tidak hanya berisi ceramah atau penyampaian materi. Mahasiswa KKN Unhas merancang kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif melalui permainan edukatif, simulasi, refleksi diri, dan aktivitas kelompok yang membuat proses belajar menjadi lebih menarik.
Sebanyak 28 siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih tiga setengah jam.
Anak-anak diajak mengenal jenis sampah, memahami dampaknya terhadap lingkungan, belajar memilah sampah organik dan anorganik, hingga menyusun komitmen pribadi untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan rumah.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung pentingnya menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru Pendidikan Lingkungan Hidup SDN 238 Mallaulu, Nurfaradillah, S.Pd., Gr., mengapresiasi metode pembelajaran yang diterapkan mahasiswa KKN Unhas.
Menurutnya, penggunaan permainan edukatif membuat siswa lebih antusias mengikuti kegiatan sekaligus lebih mudah memahami materi yang diberikan.
“Kegiatan pengelolaan sampah yang dikemas melalui permainan edukatif sangat menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Mereka menjadi lebih mudah memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Penanggung jawab program GERAK BUMI, Naya, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari hasil identifikasi kebutuhan masyarakat terkait edukasi lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Menurutnya, anak-anak dipilih sebagai sasaran utama karena berada pada fase pembentukan karakter sehingga lebih mudah menanamkan kebiasaan positif sejak dini.
“Kami ingin edukasi lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan saja. Harapannya, anak-anak dapat membawa kebiasaan baik ini ke rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar sehingga terbentuk budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Yang menarik, program GERAK BUMI tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
Mahasiswa KKN Unhas juga menyerahkan Modul Implementasi GERAK BUMI kepada pihak sekolah sebagai panduan pelaksanaan edukasi lingkungan secara berkelanjutan.
Modul tersebut dapat digunakan guru dalam berbagai kegiatan sekolah, termasuk program Jumat Bersih maupun Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Selain itu, modul juga dilengkapi instrumen evaluasi sehingga perkembangan perilaku siswa dapat dipantau secara berkala.
Bagi Kabupaten Luwu Timur yang terus berkembang sebagai salah satu daerah penting di Sulawesi Selatan, pendidikan lingkungan menjadi investasi jangka panjang yang tidak kalah penting dibanding pembangunan fisik.
Melalui program GERAK BUMI, mahasiswa KKN Unhas menunjukkan bahwa membangun kepedulian terhadap lingkungan dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan mudah diterima anak-anak.
Harapannya, benih-benih kesadaran yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi budaya menjaga lingkungan yang kuat di masa depan. (*)
