Menjelang kick off, tribun Stadion Ganggawa Sidrap selalu ramai.
Oleh: Edy Basri
SAYA menyebut mereka ‘pemain ke-12’.
Ada yang datang membawa bendera klub. Ada yang sibuk mencari tempat duduk paling strategis. Ada pula yang datang hanya bermodal air mineral dan semangat menonton bola hingga matahari tenggelam.
Namun, beberapa pekan terakhir, ada pemandangan lain yang ikut mencuri perhatian di arena Sidrap Cup 2026.
Gadis-gadis tribun.
Mereka datang berkelompok. Ada yang mengenakan jersey klub favorit, ada yang tampil santai dengan topi dan kacamata hitam, ada pula yang sibuk mengabadikan suasana stadion melalui kamera ponsel.
Mereka bukan pemain.
Buka pula pemain cadangan.
Bukan official.
Apalagi wasit.
Tapi keberadaan mereka membuat suasana pertandingan terasa berbeda.
Sidrap Cup 2026 yang digelar Askab PSSI Sidrap sejak awal Juni lalu memang sedang menjadi tontonan favorit masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Memasuki babak delapan besar, hampir setiap pertandingan dipadati penonton.
Tribun tak pernah benar-benar kosong.
Bahkan, bagi sebagian warga, datang ke Stadion Ganggawa kini bukan semata-mata soal sepak bola.
Ada yang datang untuk bertemu teman lama.
Ada yang datang untuk menikmati suasana sore.
Ada yang datang untuk berburu konten media sosial.
Dan ada yang datang karena ikut-ikutan teman.
Yang menarik, jumlah penonton perempuan terlihat meningkat dibanding turnamen-turnamen lokal sebelumnya.
Di salah satu sudut tribun, sekelompok siswi tampak serius memperhatikan pertandingan. Sesekali mereka berteriak saat terjadi peluang emas.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali tertawa saat kamera ponsel diarahkan untuk berswafoto.
Bola jalan terus.
Konten juga jalan.
Begitulah suasana Stadion Ganggawa sekarang.
Sepak bola dan media sosial seperti menemukan titik temu.
Ketika striker gagal mencetak gol, tribun tetap sibuk.
Ketika wasit meniup peluit panjang, unggahan Instagram dan TikTok mulai bermunculan.
Turnamen ini seperti menghadirkan dua pertandingan sekaligus.
Pertandingan di lapangan.
Dan pertandingan mencari sudut foto terbaik di tribun.
Para pedagang di sekitar stadion pun ikut merasakan dampaknya.
Jualan minuman dingin laris.
Jagung bakar cepat habis.
Penjual cilok dan gorengan tak pernah sepi pembeli.
“Kalau ramai begini, rezeki juga ikut ramai,” kata seorang pedagang sambil melayani pembeli.
Di tengah sengitnya persaingan menuju semifinal, suasana tribun menjadi cerita tersendiri.
Ada yang datang mendukung klub kebanggaan.
Ada yang mengidolakan pemain tertentu.
Ada pula yang sekadar menikmati atmosfer.
Yang jelas, Stadion Ganggawa sedang hidup.
Bukan hanya karena gol-gol yang tercipta.
Tetapi karena sepak bola berhasil menjadi ruang pertemuan masyarakat.
Anak-anak, orang tua, pelajar, mahasiswa, hingga para gadis tribun yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita Sidrap Cup 2026.
Mereka mungkin tidak tercatat dalam daftar susunan pemain.
Namanya juga tidak diumumkan melalui pengeras suara stadion.
Namun setiap sore, kehadiran mereka menjadi warna lain yang membuat Sidrap Cup terasa lebih meriah.
Dan siapa tahu, bagi sebagian pemain yang sedang bertanding, semangat tambahan itu justru datang dari arah tribun. (*)
