Wajo, Katasulsel.com – Siapa bilang kepala daerah hanya piawai di ruang rapat?

Jumat (7/8/2026), Lapangan Merdeka Sengkang berubah menjadi arena yang tak biasa. Bupati Wajo Andi Rosman harus berhadapan langsung dengan Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya, Ketua DPRD Firmansyah Perkesi, unsur TNI, kejaksaan, hingga pimpinan pengadilan.

Bukan membahas anggaran.

Bukan pula membicarakan program pembangunan.

Mereka justru bertarung memperebutkan… kerupuk.

Suasana Gebyar Maradeka Festival 2026 mendadak pecah oleh tawa ribuan warga ketika para pejabat daerah mengikuti lomba makan kerupuk dan lari karung dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pemandangan seperti ini jarang terlihat.

Para pejabat yang sehari-hari tampil formal dengan seragam dan protokoler ketat, kali ini harus berjibaku mempertahankan keseimbangan di dalam karung dan berlomba menghabiskan kerupuk yang bergantung di depan wajah mereka.

Sorak-sorai warga pun menggema dari berbagai sudut Lapangan Merdeka.

Nama Bupati Andi Rosman paling sering diteriakkan.

Dan ternyata dukungan itu tidak sia-sia.

Dalam lomba makan kerupuk, orang nomor satu di Kabupaten Wajo itu berhasil menjadi yang tercepat. Ia mengungguli peserta lain, termasuk jajaran Forkopimda yang ikut meramaikan perlombaan.

Momen itu langsung menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat.

Sebab yang dipertontonkan bukan sekadar perlombaan.

Tetapi kedekatan antara pemimpin daerah dan rakyatnya.

Di tengah rutinitas pemerintahan yang padat, suasana santai seperti ini menjadi ruang yang memperlihatkan sisi lain para pejabat.

Lebih manusiawi.

Lebih akrab.

Lebih dekat dengan masyarakat.

Menurut Andi Rosman, esensi peringatan kemerdekaan memang bukan soal menang atau kalah dalam perlombaan.

Lebih dari itu, perayaan 17 Agustus adalah momentum mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus memperkuat persatuan dan kebersamaan.

“Tidak penting siapa yang menang atau kalah. Yang paling penting adalah kebersamaan yang terbangun antara pemerintah, Forkopimda, OPD dan masyarakat,” ujarnya.

Pesan itu terasa relevan.

Karena kemerdekaan Indonesia sendiri lahir dari semangat gotong royong dan persatuan berbagai elemen bangsa.

Dan di Wajo, semangat itu tampak hidup kembali lewat lomba sederhana yang sudah puluhan tahun menjadi tradisi rakyat Indonesia.

Kerupuk mungkin hanya makanan ringan.

Karung mungkin hanya alat permainan.

Tetapi Jumat sore itu, keduanya berhasil menyatukan pejabat dan masyarakat dalam satu suasana yang sama: tertawa bersama.

Di tengah banyaknya persoalan yang harus dihadapi daerah, mungkin inilah salah satu makna kemerdekaan yang paling sederhana.

Ketika pemimpin turun ke lapangan.

Ketika rakyat bisa melihat pemimpinnya tertawa.

Dan ketika Lapangan Merdeka benar-benar menjadi milik semua warga Wajo. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Wajo terbaru di sini