Sidrap, Katasulsel.com — Pohon beringin punya cara sendiri untuk bertahan. Akarnya menghujam, cabangnya melebar, dan rindangnya bergantung pada seberapa kuat ia dirawat.
Dalam politik, perumpamaan itu terasa relevan bagi Partai Golkar di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.
Menjelang Musyawarah Daerah (Musda), partai berlambang pohon beringin ini memasuki fase yang menarik: konsolidasi organisasi sekaligus membaca kemungkinan arah suksesi kepemimpinan.
Di tengah dinamika itu, nama H. Ismail Aksa, akrab disapa IAS, mulai masuk radar perbincangan.
IAS bukan orang yang datang dari luar pagar partai. Ia merupakan kader Golkar sekaligus anggota DPRD Sidrap dari partai yang identik dengan warna kuning tersebut.
Posisi itu memberinya dua jalur pengabdian: memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui parlemen dan ikut menjaga denyut kehidupan organisasi yang membesarkan namanya.
Bagi sebagian kader, Musda bukan sekadar ritual pergantian pengurus. Ini momentum menentukan siapa yang mampu memegang kemudi, merapikan barisan, dan membawa mesin politik Golkar kembali bekerja lebih efektif.
Pertanyaannya, siapa yang punya kapasitas untuk mengonsolidasikan kekuatan sekaligus membangun kembali kepercayaan kader?
Nama IAS mulai diperhitungkan dalam percakapan tersebut.
Fungsionaris Partai Golkar Sidrap, Farid Galib, SE, yang membidangi organisasi di DPD Golkar Sidrap, melihat IAS memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam upaya membesarkan partai.
Farid bukan pemain baru dalam dinamika internal beringin. Ia mengaku telah menjadi bagian dari Golkar Sidrap sejak 1998.
Pengalaman hampir tiga dekade di lingkungan partai membuatnya memahami bahwa kekuatan politik tidak cukup dibangun melalui popularitas figur. Ada faktor lain yang tidak kalah menentukan: loyalitas, kapasitas organisasi, kemampuan merangkul kader, dan kesanggupan menerjemahkan keputusan partai menjadi kerja nyata.
Dalam pembacaan Farid, IAS memiliki modal untuk ikut menjawab kebutuhan tersebut.
“Golkar membutuhkan figur yang tidak hanya memahami politik elektoral, tetapi juga mampu merawat organisasi dan menggerakkan kader. Saya melihat potensi dan kapasitas itu pada H. Ismail Aksa,” demikian pandangan Farid mengenai peluang IAS dalam dinamika kepemimpinan Golkar Sidrap.
Pernyataan itu menarik karena muncul ketika partai bersiap memasuki tahapan Musda.
Dalam politik organisasi, momentum menjelang musyawarah biasanya menjadi periode penting untuk membaca konfigurasi kekuatan. Komunikasi antarkader meningkat, aspirasi mulai disuarakan, dan kapasitas figur yang berpotensi memimpin menjadi bahan pertimbangan.
Namun, masuk radar bukan berarti otomatis berada di garis finis. Masih ada mekanisme organisasi, ketentuan pencalonan, serta proses pengambilan keputusan yang harus dilalui.
Di sinilah kemampuan membangun komunikasi politik dan merawat soliditas kader menjadi penting.
Informasi mengenai telah terbitnya petunjuk pelaksanaan (juklak) Musda menambah perhatian terhadap dinamika internal Golkar Sidrap.
Rapat pleno untuk membahas persiapan Musda kabupaten/kota di Sulawesi Selatan juga diperkirakan berlangsung dalam waktu dekat. Sementara pelaksanaan Musda kabupaten/kota disebut mengarah pada rentang November hingga Desember 2026.
Tahapan ini menjadi penting karena suksesi kepemimpinan partai bukan semata-mata soal siapa yang paling bersemangat menyatakan kesiapan. Prosesnya harus berjalan sesuai aturan dan mekanisme organisasi.
Bersambung………
Dalam konteks itulah, istilah diskresi ikut menarik perhatian.
Diskresi dapat dipahami sebagai ruang pertimbangan dalam pengambilan keputusan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Dalam organisasi politik, setiap keputusan tetap harus merujuk pada aturan partai, bukan sekadar keinginan atau kalkulasi personal.
Farid menilai IAS layak diperhitungkan dalam dinamika tersebut. Ia melihat potensi pada anggota DPRD Sidrap itu untuk mengambil peran strategis dalam memperkuat kembali fondasi organisasi.
Apakah arah keputusan nantinya akan memberi ruang lebih besar kepada IAS? Itu masih harus menunggu perkembangan dan proses resmi partai.
Namun, secara politik, ketika seorang kader senior mulai menyebut kapasitas figur tertentu menjelang Musda, pesan yang muncul cukup jelas: ada nama yang dinilai layak masuk dalam percakapan serius mengenai masa depan organisasi.
Dan IAS kini berada dalam radar itu.
Ada satu hal yang membuat pembicaraan mengenai IAS tidak berhenti pada soal pergantian kepemimpinan.
Farid melihat peluang bagi IAS untuk melanjutkan obsesi Zulkifli Zain dalam membesarkan Golkar Sidrap.
Harapan itu menempatkan Musda bukan hanya sebagai ajang memilih nakhoda baru, melainkan juga momentum untuk meneruskan cita-cita membangun kekuatan partai di daerah.
Dalam politik, kesinambungan kepemimpinan tidak berarti mempertahankan semua cara lama. Justru, pemimpin berikutnya dituntut mampu membaca perubahan zaman, memahami karakter pemilih, dan menyusun strategi yang lebih relevan.
Golkar membutuhkan konsolidasi yang lebih kuat, kaderisasi yang berkelanjutan, komunikasi politik yang efektif, serta struktur organisasi yang benar-benar bekerja hingga tingkat bawah.
Pekerjaan itu tidak ringan.
Partai yang ingin kembali kuat tidak cukup mengandalkan nama besar atau kejayaan masa lalu. Ia harus memastikan kader memiliki ruang untuk berkembang, pengurus bergerak dalam satu barisan, dan masyarakat tetap melihat partai sebagai saluran aspirasi yang bisa diandalkan.
Dalam kerangka tersebut, IAS dipandang memiliki peluang untuk ikut melanjutkan agenda pembesaran Golkar Sidrap.
Bukan sekadar menjaga pohon beringin tetap berdiri, tetapi merawat akarnya agar semakin kuat dan membuat cabangnya kembali rindang.
IAS memiliki tagline yang menarik untuk dibaca dalam konteks politik internal Golkar: Hadir Untuk Mengabdi.
Tiga kata yang sederhana, tetapi membawa pesan tentang orientasi kepemimpinan.
Hadir bukan sekadar terlihat. Hadir berarti mengambil tanggung jawab. Mengabdi bukan semata-mata mengejar jabatan, melainkan memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan karya nyata untuk membesarkan partai sekaligus memperjuangkan aspirasi kader dan masyarakat.
Dalam politik, jargon bisa menjadi alat komunikasi untuk membangun citra. Namun, citra yang bertahan lama harus ditopang rekam kerja dan bukti pengabdian.
Karena itu, tantangan IAS bukan hanya memperkenalkan tagline tersebut, tetapi menerjemahkannya menjadi tindakan yang dapat dirasakan.
Pengurus di tingkat kecamatan perlu merasakan kehadiran partai. Kader di desa dan kelurahan membutuhkan ruang berorganisasi. Masyarakat pun membutuhkan wakil politik yang mampu mendengar dan memperjuangkan kepentingan mereka.
Jika ketiganya dapat dijembatani, slogan pengabdian tidak berhenti sebagai kalimat pemanis. Ia bisa menjadi identitas politik yang memiliki substansi.
Di sinilah IAS memiliki ruang untuk menunjukkan bahwa pengabdian kepada partai dan pelayanan kepada masyarakat bukan dua kepentingan yang harus dipertentangkan.
Bersambung………
Justru, keduanya dapat saling menguatkan.
Politik internal partai kerap dibaca sebagai pertarungan figur. Siapa didukung siapa, siapa memiliki jaringan lebih luas, dan siapa yang paling berpeluang mengamankan posisi.
Pembacaan semacam itu memang menjadi bagian dari dinamika politik. Namun, Musda yang sehat seharusnya melampaui kalkulasi perebutan jabatan.
Musda mestinya menjadi ruang evaluasi, konsolidasi, dan penentuan arah organisasi.
Golkar Sidrap membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengelola perbedaan, merangkul berbagai kelompok, dan mengubah potensi kader menjadi kekuatan bersama.
Sebab, dukungan yang terkumpul menjelang musyawarah belum tentu menjadi kekuatan politik yang bertahan setelahnya. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menjaga soliditas setelah keputusan diambil.
Dalam konteks ini, siapa pun yang mendapat kepercayaan harus mampu membangun kepemimpinan yang inklusif, bukan sekadar mengandalkan kelompok pendukungnya.
IAS, jika nantinya memperoleh ruang lebih besar dalam kepemimpinan Golkar Sidrap, tentu menghadapi tantangan yang sama.
Modal politik harus diikuti kemampuan organisatoris. Kedekatan dengan kader harus diterjemahkan menjadi kerja kolektif. Dan ambisi membesarkan partai harus dibuktikan melalui strategi yang terukur.
Farid melihat IAS sebagai salah satu figur yang memiliki potensi untuk ikut membesarkan kembali Golkar Sidrap.
Pandangan itu menjadi bagian dari dinamika menjelang Musda, ketika kebutuhan akan konsolidasi dan regenerasi kepemimpinan mulai mengemuka.
Namun, kebangkitan partai tidak pernah menjadi pekerjaan satu orang.
Ada kader yang harus dirangkul, struktur yang perlu diperkuat, komunikasi yang harus dibangun, dan kepercayaan masyarakat yang mesti terus dirawat.
Musda nanti akan menjadi salah satu momentum untuk melihat bagaimana Golkar menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam pilihan kepemimpinan.
Apakah IAS akan memperoleh ruang lebih besar? Perkembangan politik internal dan mekanisme resmi partai yang akan menjawabnya.
Untuk saat ini, namanya telah masuk dalam pembicaraan mengenai masa depan Golkar Sidrap. Setidaknya, ada harapan dari kader senior bahwa kapasitasnya dapat menjadi bagian dari upaya membesarkan kembali partai.
Bersambung………
Tagline IAS, “Hadir Untuk Mengabdi”, pun menemukan relevansinya dalam momentum ini.
Sebab, dalam politik, jabatan memang bisa memberi seseorang kewenangan. Tetapi, kemampuan merawat organisasi, merangkul kader, dan memperjuangkan kepentingan masyarakatlah yang menentukan kualitas pengabdiannya.
Beringin Sidrap mungkin sedang menunggu musim baru. Dan IAS, dalam pembacaan sebagian kader, adalah salah satu nama yang layak diperhitungkan dalam upaya membuatnya kembali rindang. (*)
