Jakarta, Katasulsel.com – Humor dan tulisan dapat menjadi alat kritik terhadap kekuasaan. Gagasan itu mengemuka dalam peringatan haul Mahbub Djunaidi yang digelar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Habib Husein Ja’far Al Hadar dan meluncurkan buku Mahbub Djunaidi dan Seni Menggugat Zaman untuk mengajak kader muda meneruskan tradisi intelektual Mahbub.

Mahbub Djunaidi dikenal sebagai jurnalis, penulis, dan Ketua Umum pertama PMII. Melalui tulisan dan humor, ia menyampaikan kritik sosial sekaligus memperkuat tradisi intelektual dalam pergerakan mahasiswa.

Acara bertema “Merawat Tradisi, Menyalakan Nalar dan Membangkitkan Gerakan Pemuda” tersebut juga diisi monolog budaya, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan pertunjukan musik. Rangkaian kegiatan diawali dengan tahlil untuk mengenang Mahbub Djunaidi dan almarhum Mas Fathan Subhi.

Dalam diskusi, Habib Ja’far menyoroti humor sebagai bahasa universal sekaligus instrumen kritik terhadap pemimpin. Menurutnya, humor dapat menyampaikan kritik secara tajam dan menjangkau beragam kalangan.

“Humor itu pertama adalah bahasa paling universal. Kemudian, humor juga instrumen yang sangat powerful untuk menjadi pukulan ke atas, kritik terhadap pemimpin-pemimpin yang tidak becus,” ujarnya.

Habib Ja’far juga mengusulkan pelatihan humor atau komedi sebagai bagian dari pengaderan PMII. Gagasan tersebut bukan semata-mata untuk mencetak komedian, tetapi melatih kader menyampaikan kritik dan gagasan secara kreatif.

Ketua panitia Isyfa’ Zia Ulhaq mengatakan, buku yang diluncurkan menghimpun tulisan sekitar 15 kontributor dari beragam latar, antara lain sosiologi, gender, pesantren, mahasiswa, dan gerakan sosial. Kumpulan tulisan itu menghadirkan beragam perspektif untuk membaca pemikiran Mahbub dalam konteks masa kini.

“Kami ingin menggeser cara memperingati haul. Mengenang Mahbub Djunaidi tidak cukup hanya dengan membicarakan siapa beliau dan apa yang pernah beliau tulis. Kita perlu melanjutkan tradisi intelektualnya melalui karya, keberanian menyampaikan kritik, dan tindakan nyata,” kata Isyfa’.

Dalam kegiatan tersebut, LAZISNU PBNU menggalang donasi untuk membantu korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Panitia juga merencanakan kelas menulis pada Desember bagi pembeli buku.

“Kami ingin anak muda tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi mampu membaca persoalan, menyampaikan gagasan, membangun solidaritas, dan mengambil bagian dalam menciptakan perubahan sosial,” ujar Isyfa’.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru