Pagi ini, saya mendapat kabar. Kapolres Parepare AKBP Indra Waspada Yuda dimutasi jadi Kapolres Sidrap.
Oleh: Edy Basri
Kebetulan, saya telat bangun. Maklum begadang nonton Piala Dunia semalam.
Lalu. Saya mendapat kabar. Indra dimutasi ke Sidrap
Padahal, baru beberapa hari saya bertemu denganya. Saya di ruangannya, makan siang bersama.
Kebetulan saya ke Parepare waktu itu.
Tapi, sudahlah.
Bukannya mutasi pimpinan itu hal lumrah?
Disini.
Saya lebih tertarik mengulas sepak terjang Indra selama menjabat di Parepare.
Bagi saya, ada angka yang menarik dari mutasi Kapolri pekan ini.
352.
Angka di atas, bukan nomor perkara ya.
Bukan pula nomor telegram atau plat kendaraan dinas.
Itulah jumlah hari AKBP Indra Waspada Yuda memimpin Polres Parepare.
Hanya 352 hari.
Atau 11 bulan 17 hari.
Kurang 13 hari lagi genap setahun.
Tetapi dalam waktu yang belum penuh itu, ia meninggalkan angka lain yang jauh lebih mencolok.
104 kilogram.
Itulah total sabu yang berhasil diungkap selama masa kepemimpinannya di Kota Parepare.
Parepare memang kota kecil.
Penduduknya tidak sebanyak Makassar.
Wilayahnya tidak seluas Sidrap.
Namun kota pelabuhan itu memiliki posisi yang sangat strategis.
Semua orang tahu.
Kapal datang dan pergi setiap hari.
Orang datang dan pergi setiap malam.
Dan di antara lalu-lalang itu, selalu ada kemungkinan barang haram ikut menumpang.
Karena itu, pelabuhan sering menjadi pertaruhan.
Siapa yang lengah, kalah.
Siapa yang teliti, menang.
Indra tampaknya memilih yang kedua.
Belum lama duduk di kursi Kapolres Parepare, aparatnya menemukan koper mencurigakan.
Bukan koper biasa.
Di dalamnya tersimpan sekitar 20 kilogram sabu.
Belum selesai cerita itu.
September 2025 datang.
Lagi-lagi pelabuhan berbicara.
Sebanyak 44 kilogram sabu berhasil diamankan.
Jumlahnya membuat banyak orang terkejut.
Bukan hanya karena nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Tetapi juga karena menunjukkan bahwa Parepare sedang berhadapan dengan jaringan besar.
Orang mungkin mengira itu pengungkapan terbesar.
Ternyata belum.
Juni 2026 datang membawa cerita baru.
Lebih dari 40 kilogram sabu kembali ditemukan.
Kali ini bersama ratusan cartridge vape yang diduga mengandung zat berbahaya.
Jika dijumlahkan, hasilnya mencapai lebih dari 100 kilogram.
Dalam waktu kurang dari setahun.
Di satu kota.
Di satu masa kepemimpinan.
Lalu muncullah telegram mutasi.
Nama Indra ada di dalamnya.
Tujuannya: Sidrap.
Bagi banyak orang, itu sekadar perpindahan jabatan.
Tetapi bagi sebagian personel lama Polres Sidrap, ada cerita yang lebih menarik.
Karena Indra bukan orang baru di sana.
Ia pernah menjadi Kasat Reskrim Sidrap.
Bahkan pernah menjadi Kasat Narkoba Sidrap.
Uniknya, ia mungkin satu-satunya perwira yang dimutasi dari Kasat Reskrim menjadi Kasat Narkoba tanpa harus pindah kantor.
Hanya pindah ruangan.
Tetapi medan tempurnya berubah total.
Dari mengejar pelaku kriminal umum menjadi memburu bandar narkoba.
Cerita itu masih diingat sebagian anggota lama.
Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali.
Bukan sebagai kasat.
Tetapi sebagai Kapolres.
Yang lebih menarik lagi adalah siapa yang akan digantikannya.
AKBP Fantry Taherong.
Nama yang juga tidak asing bagi Sidrap.
Dulu, ketika Indra menjadi Kasat Reskrim, Fantry adalah Kasat Intelkam.
Mereka bekerja dalam satu kantor.
Dalam satu halaman apel.
Dalam satu institusi.
Kini sejarah itu seperti diputar ulang.
Fantry naik ke Polda Sulsel.
Indra masuk menggantikannya.
Seolah-olah ada estafet yang sejak dulu memang dipersiapkan.
Masyarakat Sidrap tentu punya harapan sendiri.
Mereka tidak hanya melihat pangkat di pundaknya.
Mereka melihat rekam jejaknya.
Sebab jabatan bisa datang dari telegram.
Tetapi kepercayaan lahir dari pekerjaan.
Dan sejauh ini, angka 104 kilogram sabu itu sudah cukup berbicara.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli berapa banyak rapat yang dihadiri seorang pejabat.
Mereka lebih mudah mengingat hasil.
Apa yang dikerjakan.
Apa yang diubah.
Apa yang berhasil dijaga.
Kini Parepare bersiap melepas.
Sidrap bersiap menyambut.
Sementara Indra berada di antara keduanya.
Meninggalkan kota pelabuhan yang selama 352 hari menjadi medan tugasnya.
Dan kembali menuju daerah yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.
Sidrap.
Tempat yang dulu ia tinggalkan sebagai kepala satuan.
Dan kini ia datangi kembali sebagai kapolres.(*)
