Makassar, Katasulsel.com β Ada yang menarik dari sebuah daftar yang belakangan ramai beredar.
Bukan daftar orang terkaya.
Bukan pula daftar daerah penghasil emas.
Justru yang dihitung adalah rumah tangga yang memiliki emas atau perhiasan minimal 10 gram.
Dan hasilnya cukup bikin penasaran.
Sulawesi Selatan muncul berkali-kali di papan atas.
Dalam daftar 15 kabupaten dengan tingkat kepemilikan emas rumah tangga tertinggi yang bersumber dari data BPS 2025, delapan kabupaten di antaranya berasal dari Sulawesi Selatan.
Wajo berada di posisi pertama nasional dengan angka 53,23 persen.
Nagan Raya, Aceh, berada di posisi kedua dengan 51,31 persen.
Lalu Sidrap muncul di posisi ketiga dengan 49,95 persen.
Soppeng menyusul di posisi keempat dengan 45,23 persen.
Pangkep berada di posisi kelima dengan 44,80 persen.
Kepulauan Selayar di posisi ketujuh dengan 40,97 persen.
Maros posisi kesembilan dengan 36,97 persen.
Barru posisi ke-10 dengan 36,71 persen.
Dan Pinrang menutup daftar 15 besar dengan 33,31 persen.
Pertanyaannya kemudian sederhana:
Kenapa?
Kenapa Wajo bisa berada di puncak nasional?
Kenapa Sidrap hampir menyentuh angka 50 persen?
Dan mengapa Soppeng juga masuk empat besar?
βKenapa emas?β
Kalau pertanyaan itu diarahkan kepada Pegadaian, jawabannya ternyata bukan semata-mata soal investasi.
Kepala Departemen Business Support PT Pegadaian Kanwil VI, Deddy Suryady, menyebut ada faktor adat dan kebiasaan masyarakat.
βIni terkait adat, terkait habit masyarakat,β kata Deddy.
Menurut dia, emas sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Bukan sesuatu yang baru muncul ketika harga emas melonjak.
Ada tradisi yang berjalan dari generasi ke generasi.
Ada pula pengalaman keluarga yang membuat emas dipercaya sebagai salah satu bentuk penyimpanan nilai.
βMereka sudah secara experience merasakan manfaatnya, jadi mereka bisa terus menurunkan habit-habit tersebut termasuk ke anak-anaknya,β ujar Deddy.
Nah, di titik ini ceritanya menjadi menarik.
Bersambung…………..
Sebab kalau hanya karena harga emas sedang tinggi, seharusnya fenomenanya relatif sama di semua daerah.
Tetapi data menunjukkan ada perbedaan yang cukup mencolok antardaerah.
Rata-rata kepemilikan rumah tangga dengan aset emas/perhiasan minimal 10 gram di Sulsel berada sekitar 27,54 persen, sementara Wajo mencapai 53,23 persen dan Sidrap 49,95 persen.
Artinya, fenomena tersebut tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengatakan βharga emas sedang naikβ.
Ada faktor kebiasaan masyarakat yang ikut bermain.
Wajo-Sidrap-Soppeng: tiga nama yang bikin penasaran
Lihat lagi daftarnya.
Wajo.
Sidrap.
Soppeng.
Tiga kabupaten di Sulsel ini bertengger di posisi 1, 3 dan 4 nasional.
Belum selesai.
Pangkep juga masuk lima besar.
Selayar, Maros, Barru dan Pinrang kemudian melengkapi delapan daerah Sulsel dalam 15 besar.
Jadi, kalau daftar tersebut dibaca dari sudut Sulsel, ceritanya bukan lagi tentang satu daerah.
Ini sudah menjadi fenomena regional.
Menariknya lagi, kota besar tidak otomatis berada di papan atas. Data Sulsel menunjukkan Makassar berada jauh di bawah Wajo dan Sidrap dalam indikator kepemilikan emas minimal 10 gram.
Lalu apa yang membedakan?
Pegadaian menyebut faktor kebiasaan.
Terutama di sejumlah wilayah masyarakat Bugis.
Deddy mengatakan wilayah Sidrap dan kawasan Bugis memberikan kontribusi yang cukup berarti terhadap bisnis Pegadaian.
βWilayah Sidrap, wilayah Bugis, sebagian besar di sana,β katanya.
Dari lemari ke aplikasi
Yang berubah sekarang justru cara emas itu diperoleh dan dikelola.
Dulu, orang mungkin membeli emas dalam bentuk perhiasan lalu menyimpannya di rumah.
Sekarang pilihannya semakin banyak.
Pegadaian juga mendorong layanan digital melalui aplikasi Tring!, termasuk layanan investasi emas dan cicil emas.
Namun, menurut Deddy, pemanfaatan layanan digital tersebut masih lebih banyak ditemukan di perkotaan.
Di daerah, edukasi masih terus dilakukan.
Bersambung…………..
Perubahan ini menarik karena memperlihatkan dua zaman yang sedang bertemu.
Kebiasaan lama menyimpan emas, dengan teknologi baru membeli dan mengelolanya.
Dulu emas mungkin disimpan dalam kotak perhiasan.
Sekarang sebagian prosesnya bisa dilakukan melalui layar ponsel.
Tetapi logikanya tetap sama:
menyimpan nilai.
Dan data BPS 2025 memberikan gambaran yang cukup jelas.
Di Sulawesi Selatan, emas ternyata bukan sekadar perhiasan.
Bagi banyak rumah tangga, ia juga menjadi bagian dari cara menyimpan aset.
Wajo bahkan berada di puncak nasional.
Sidrap hampir menyentuh separuh rumah tangga.
Soppeng masuk empat besar.
Pangkep lima besar.
Dan total delapan kabupaten Sulsel masuk 15 besar nasional.
Jadi, kalau ada yang bertanya:
βKenapa orang Sulsel suka emas?β
Jawaban Pegadaian mungkin sederhana:
karena sudah menjadi habit.
Tetapi angka BPS membuat pertanyaan berikutnya jauh lebih menarik:
Kalau kebiasaan itu sudah diwariskan selama beberapa generasi, seberapa besar sebenarnya βharta yang diamβ di rumah-rumah warga Sulsel dalam bentuk emas? (edybasri)
