Nurzahra Shahid
SIDRAP, KATASULSEL.COM — Di tengah derasnya perkembangan pengobatan modern, sebagian masyarakat mulai melupakan pengetahuan leluhur yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal, banyak tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang tidak kalah penting jika digunakan secara tepat dan aman.
Kesadaran itulah yang mendorong mahasiswa KKN Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan Program SIPAKATAU (Sinergi Pemanfaatan Kearifan Lokal melalui Edukasi Etnomedisin untuk Intervensi Tiga Masalah Kesehatan Prioritas) di Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 24 Juli 2026, di Masjid Al Furqon, Dusun Wala-Wala, itu menjadi ruang belajar bersama antara mahasiswa dan masyarakat untuk menggali kembali kekayaan pengetahuan lokal yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun kali ini, pengetahuan tradisional tersebut tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya semata. Mahasiswa KKN menghadirkannya dengan pendekatan ilmiah sehingga masyarakat dapat memahami manfaat tanaman obat berdasarkan bukti kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Warga yang hadir tampak serius menyimak pemaparan materi yang membahas berbagai tanaman obat yang selama ini akrab di lingkungan sekitar mereka.
Banyak peserta mengaku sering menggunakan ramuan tradisional untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan. Namun sebagian besar belum mengetahui cara pengolahan yang benar maupun batasan penggunaannya.
Melalui Program SIPAKATAU, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pemanfaatan etnomedisin sebagai terapi komplementer untuk membantu pencegahan dan penanganan tiga masalah kesehatan yang cukup sering ditemui di lingkungan masyarakat, yakni hipertensi, batuk, dan demam.
Materi yang disampaikan tidak hanya menjelaskan manfaat tanaman obat, tetapi juga menekankan pentingnya penggunaan yang aman, rasional, dan tidak menggantikan pelayanan medis ketika kondisi kesehatan memerlukan penanganan tenaga kesehatan.
Para peserta juga diperkenalkan pada prinsip-prinsip dasar pengolahan tanaman obat yang baik, termasuk cara mengenali bahan yang layak digunakan, teknik pengeringan, hingga pembuatan simplisia agar khasiat tanaman tetap terjaga.
Menariknya, sesi diskusi menjadi salah satu bagian yang paling hidup dalam kegiatan tersebut.
Warga secara aktif berbagi pengalaman mengenai tanaman yang biasa digunakan di rumah untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Dari cerita-cerita itu, mahasiswa kemudian memberikan penjelasan ilmiah mengenai kandungan dan manfaat tanaman tersebut berdasarkan referensi kesehatan yang telah diteliti.
Penanggung jawab kegiatan, Nurzahra Shahid dari Program Studi Farmasi Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa SIPAKATAU lahir dari semangat untuk menjembatani pengetahuan tradisional dengan ilmu kesehatan modern.
“Melalui Program SIPAKATAU, kami ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan masyarakat apabila dimanfaatkan secara tepat, aman, dan berbasis bukti ilmiah. Sinergi antara pengetahuan tradisional dan ilmu kesehatan modern diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya,” ujarnya.
Program ini juga didukung oleh Glory Meicy Tandungan (Psikologi), A. M. Ihsanul Mubin (Pendidikan Dokter Umum), Nurmala Dewi A (Kesehatan Masyarakat), Afigah Nur Aila (Kesehatan Masyarakat), Ika Meisyifa Sahira (Kedokteran Gigi), Andi Nabilah Azzahrah Gunawan (Kedokteran Hewan), dan Nur Rahma Syazulqahad (Keperawatan). Kolaborasi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu kesehatan tersebut menjadi kekuatan dalam menghadirkan edukasi yang komprehensif, integratif, dan berbasis bukti ilmiah sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami serta diterapkan oleh masyarakat secara tepat.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan Ryryn Suryaman Prana Putra, S.K.M., M.Kes., selaku Supervisor KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 Posko Desa Leppangeng. Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa didorong untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara kolaboratif guna menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Pelaksanaan Program SIPAKATAU juga sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Good Health and Well-Being, khususnya dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat melalui edukasi, pemberdayaan, dan penguatan upaya promotif serta preventif.
Program SIPAKATAU juga menjadi bukti bahwa pengetahuan lokal tidak harus ditinggalkan di tengah kemajuan zaman. Sebaliknya, kearifan yang diwariskan leluhur dapat terus hidup apabila dipadukan dengan ilmu pengetahuan modern dan digunakan secara bijaksana.
Lebih dari sekadar edukasi kesehatan, kegiatan ini mengandung pesan penting tentang pelestarian budaya. Sebab di balik setiap tanaman obat yang tumbuh di halaman rumah warga, tersimpan pengetahuan panjang yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin berharap masyarakat Desa Leppangeng semakin percaya diri dalam memanfaatkan tanaman obat sebagai terapi komplementer yang aman dan rasional, sekaligus tetap memahami pentingnya berkonsultasi kepada tenaga kesehatan ketika menghadapi kondisi medis tertentu.
Pada akhirnya, Program SIPAKATAU bukan hanya tentang mengenalkan manfaat tanaman obat. Program ini merupakan upaya merawat jembatan antara masa lalu dan masa depan—antara warisan leluhur dan ilmu pengetahuan modern—agar keduanya dapat berjalan beriringan demi menciptakan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
