Pepohonan rindang? Masih masuk kategori “optional DLC”.
Ruang UKS terpisah? Masih dalam status “coming soon update 2026–tak pasti”.
Perpustakaan ideal? Masih satu ruangan dengan suara rapat guru dan langkah siswa.

Ironinya, penilaian tetap jalan seperti race control tidak pernah melihat kondisi paddock.

“Untuk juara itu hampir mustahil,” kata Hj. Ramlia, dengan tenang, seperti tim principal yang sudah tahu hasil race sebelum start.

Yang bisa dilakukan sekolah ini hanya satu: ikut start. Seperti pembalap backmarker yang tetap masuk grid meski tahu akan disalip satu per satu.

Namun di dunia pendidikan, tidak ada istilah DNF (Did Not Finish). Semua tetap harus “finish”, meski kadang dengan kondisi yang jauh dari ideal.

Di Babbanulo, anak-anak tetap belajar. Guru tetap mengajar. Administrasi tetap berjalan. Semua dilakukan dalam satu ruang yang sama—seperti balapan yang semua sesi FP1, FP2, kualifikasi, dan race dilakukan di lintasan yang sama, tanpa pindah paddock.

Kalau pemerintah adalah race organizer, maka Babbanulo ini sudah lama menunggu “safety car” berupa pembangunan ruang kelas baru. Tapi sampai sekarang, yang datang baru “virtual promise board”—papan janji yang kadang muncul saat kunjungan, lalu hilang saat musim anggaran berganti.

Hj. Ramlia berharap ada perubahan nyata. Bukan lagi sekadar “briefing sebelum lomba”, tapi benar-benar pembangunan yang memisahkan fungsi ruang seperti tim balap modern memisahkan data telemetri, mekanik, dan rider briefing.

“Harapan kami sederhana. Anak-anak ini butuh ruang yang layak supaya bisa bersaing,” katanya.

Mengawal akurasi dan kedalaman berita